
Bandung – Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesiamenghadirkan pakar autisme dari Jepang, Prof. Ryoichiro Iwanaga, dalam kegiatan visiting lecturer bertajuk “Sensorimotor Problems in Children with Autism and Its Relationship with Learning Process at School” yang diselenggarakan pada Selasa, 10 Maret 2026 di Auditorium FIP Lantai 10. Kegiatan ini menjadi forum akademik penting bagi sivitas akademika Pendidikan Khusus untuk memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara gangguan sensorimotor pada anak autisme dengan proses belajar di sekolah.
Kuliah umum ini diikuti oleh dosen, mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus angkatan 2024, serta peserta dari Tokutei Ginou batch 1 dan 2. Dalam pemaparannya, Prof. Ryoichiro Iwanaga menjelaskan bahwa sekitar 74 persen anak dengan Autism Spectrum Disorder mengalami respons sensorik yang tidak biasa sehingga berdampak pada perilaku dan konsentrasi belajar di kelas. Kondisi ini dapat membuat anak mengalami kesulitan memproses berbagai rangsangan secara bersamaan seperti suara, cahaya, atau sentuhan yang akhirnya memengaruhi kemampuan mereka dalam mengikuti pembelajaran di sekolah.

Ia juga menjelaskan berbagai pola respons sensorik seperti sensory seeking, sensory sensitive, sensory avoiding, dan low registration yang sering muncul pada anak autisme. Menurutnya, pemahaman terhadap karakteristik sensorik ini sangat penting bagi guru agar dapat menyesuaikan strategi pembelajaran serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah bagi anak dengan kebutuhan khusus.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan FIP UPI, Dr. Euis Kurniati, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan visiting lecturer ini menjadi bagian dari upaya fakultas untuk memperluas wawasan mahasiswa dan dosen melalui kolaborasi akademik internasional. Ia menilai bahwa kehadiran pakar dari luar negeri memberikan perspektif baru bagi pengembangan pendidikan khusus, terutama dalam memahami pendekatan intervensi yang berbasis riset dan praktik global. Ia juga berharap kegiatan seperti ini dapat memperkuat kompetensi mahasiswa Pendidikan Khusus dalam menangani berbagai karakteristik anak berkebutuhan khusus di lingkungan pendidikan.

Ketua Program Studi Pendidikan Khusus, Dr. dr. Riksma Nurahmi Rinalti Akhlan, M.Pd., menyampaikan bahwa isu sensorimotor pada anak autisme merupakan salah satu aspek penting yang harus dipahami oleh calon guru pendidikan khusus. Menurutnya, gangguan pada pemrosesan sensorik tidak hanya berkaitan dengan perilaku anak tetapi juga sangat memengaruhi kesiapan belajar, interaksi sosial, serta kemampuan anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Ia berharap kegiatan akademik seperti ini dapat memperkaya wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat kualitas pendidikan khusus di UPI.
Selain membahas teori, Prof. Iwanaga juga memaparkan berbagai strategi intervensi yang dapat diterapkan di sekolah, seperti modifikasi lingkungan belajar, penyediaan ruang tenang bagi anak yang mengalami overstimulasi, penggunaan alat bantu sensorik seperti headphone peredam suara, serta pemberian aktivitas sensorik yang terstruktur untuk membantu regulasi perilaku anak. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung kenyamanan belajar anak dengan autisme di lingkungan sekolah.
Kegiatan visiting lecturer ini ditutup dengan sesi diskusi yang berlangsung interaktif antara peserta dan narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan terkait pengalaman penanganan anak autisme di sekolah maupun di pusat layanan terapi. Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Khusus FIP UPI berharap dapat terus menghadirkan forum akademik internasional yang mendukung pengembangan ilmu dan praktik pendidikan inklusif di Indonesia.
