
Bandung Barat, 1 Agustus 2026 — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus (HIMA PKh) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (FIP UPI) melaksanakan kegiatan Pengabdian pada Masyarakat (P2M) 2026 di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Mengusung tema “Bersama, Berkarya dalam Kesetaraan”, kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari, 24–30 Juli 2026, tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan Pendidikan Khusus sekaligus berinteraksi dan berkontribusi secara langsung bersama masyarakat.
Kegiatan yang diikuti oleh 102 orang ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan sosial, tetapi juga sebagai bentuk penguatan kepedulian mahasiswa terhadap pendidikan inklusif dan keberagaman kebutuhan masyarakat. Pelaksanaan P2M melibatkan dosen Pendidikan Khusus FIP UPI sebagai pengarah, penasihat, dan pembimbing kemahasiswaan, DPM PKh FIP UPI, panitia dan mahasiswa HIMA PKh FIP UPI, pemateri, anggota KSR PMI UPI, Puskesmas Cibodas, TPA Riyadul Huda, pemerintah Desa Suntenjaya, kader PKK, Karang Taruna, anak berkebutuhan khusus beserta orang tua atau wali, serta masyarakat setempat.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat, 24 Juli 2026 dengan keberangkatan panitia dan peserta dari UPI menuju Desa Suntenjaya. Setelah tiba di lokasi, panitia melakukan mobilisasi dan persiapan kegiatan sebelum melaksanakan pembukaan resmi di Balai Desa Suntenjaya. Pembukaan menjadi momentum awal untuk memperkenalkan program kepada perangkat desa sekaligus membangun koordinasi antara mahasiswa, pembimbing, dan masyarakat.
Pada hari kedua dan ketiga, fokus kegiatan diarahkan pada penjaringan anak berkebutuhan khusus secara door to door. Tim mentor dan peserta mendatangi lingkungan masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan serta kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Proses ini menjadi bagian penting karena mahasiswa tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga berupaya memahami kondisi anak dan lingkungan keluarganya sebagai dasar penyusunan program yang sesuai.

Di saat yang sama, mahasiswa juga melaksanakan kegiatan pembelajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Riyadul Huda. Anak-anak mendapatkan pendampingan melalui kegiatan belajar Iqro, doa-doa, menggambar, dan materi Aqidah. Kehadiran mahasiswa di TPA memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih beragam bagi anak-anak sekaligus memperluas bentuk interaksi mahasiswa dengan masyarakat Desa Suntenjaya.
Memasuki Senin, 27 Juli 2026, hasil penjaringan mulai ditindaklanjuti melalui penyusunan program berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh masing-masing kelompok. Pada hari yang sama, mahasiswa juga menyelenggarakan sosialisasi kepada masyarakat di Balai RW 03 Desa Suntenjaya mengenai pentingnya pendidikan inklusif. Kegiatan ini diarahkan untuk membangun pemahaman bahwa pendidikan merupakan hak setiap anak dan keberagaman kebutuhan peserta didik memerlukan dukungan lingkungan yang sesuai.

Semangat kebersamaan juga diwujudkan melalui kerja bakti bersama Karang Taruna di lingkungan Desa Suntenjaya. Kegiatan tersebut memperkuat interaksi antara mahasiswa dan masyarakat serta menunjukkan bahwa pengabdian tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pendidikan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan sosial masyarakat.
Pada hari kelima, kegiatan dilanjutkan dengan berkebun bersama warga serta kegiatan vokasional bersama anak berkebutuhan khusus. Kegiatan vokasional dirancang sebagai ruang untuk mengenali dan mengembangkan potensi keterampilan anak melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melakukan aktivitas secara lebih fungsional dan kontekstual sesuai dengan lingkungan di sekitarnya.
Rangkaian pengabdian berlanjut pada Rabu, 29 Juli 2026 melalui kegiatan membantu warga, termasuk memerah susu dan berkebun. Pada hari yang sama, mahasiswa memberikan Program Pembelajaran Individual (PPI) kepada masing-masing anak berkebutuhan khusus berdasarkan hasil penjaringan dan asesmen sebelumnya. Pemberian PPI menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan karena program pembelajaran disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan individual anak.
Selain kegiatan bersama anak berkebutuhan khusus dan masyarakat, mahasiswa kembali melaksanakan kegiatan di TPA Riyadul Huda melalui aktivitas menonton film bersama anak-anak. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa P2M dikembangkan dengan pendekatan yang menyentuh beberapa aspek sekaligus, mulai dari pendidikan, keterampilan, interaksi sosial, hingga pendampingan individual bagi anak berkebutuhan khusus.

Selama tujuh hari pelaksanaan, evaluasi dilakukan secara berkala melalui evaluasi kecil pada setiap kegiatan dan evaluasi besar bersama seluruh panitia. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari proses refleksi untuk melihat pelaksanaan program, mengidentifikasi kendala, serta memastikan rangkaian kegiatan tetap berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Puncak kegiatan berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026 melalui acara penutupan di Balai Desa Suntenjaya yang turut dihadiri oleh Kepala Desa Suntenjaya. Hasil pendataan anak berkebutuhan khusus juga disampaikan kepada perangkat desa sebagai bentuk tindak lanjut dan pertanggungjawaban atas proses penjaringan yang telah dilakukan selama kegiatan.
P2M 2026 menjadi pengalaman pembelajaran langsung bagi mahasiswa Pendidikan Khusus untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Melalui kegiatan penjaringan, asesmen, penyusunan PPI, pembelajaran di TPA, kegiatan vokasional, sosialisasi pendidikan inklusif, serta keterlibatan dalam aktivitas kemasyarakatan, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Dengan mengusung semangat “Bersama, Berkarya dalam Kesetaraan”, P2M HIMA PKh FIP UPI 2026 menegaskan bahwa pendidikan inklusif membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi mahasiswa, dosen, pemerintah desa, keluarga, anak berkebutuhan khusus, lembaga pendidikan, serta masyarakat menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih terbuka terhadap keberagaman dan memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai dengan potensinya.

