
Bandung — Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesiamenyelenggarakan kegiatan Diskusi Prodi Pendidikan Khusus dengan UIE pada Rabu, 11 Maret 2026 di Auditorium Lantai 10 FIP. Kegiatan ini merupakan forum akademik yang mempertemukan sivitas akademika Pendidikan Khusus dengan mitra internasional dari UKAI International Employment (UIE) untuk membahas penanganan anak dengan gangguan perkembangan dalam konteks pembelajaran di kelas. Diskusi menghadirkan narasumber dari Jepang, yaitu Prof. Ryoichiro Iwanaga dan Ukai Saito, M.Ed., serta diikuti oleh dosen Pendidikan Khusus, mahasiswa PKh angkatan 2023, mahasiswa PPG PKh, peserta program Tokutei Ginou batch 1 dan 2, dan tamu undangan dari berbagai lembaga pendidikan dan layanan anak berkebutuhan khusus.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta secara luring dan daring, dilanjutkan dengan pembukaan serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu Sekretaris Program Studi Pendidikan Khusus menyampaikan sambutan pembuka yang menekankan pentingnya kerja sama akademik internasional dalam memperkaya perspektif keilmuan pendidikan khusus. Sesi diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ukai Saito yang membahas transisi pembelajaran bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Ia menjelaskan bahwa sejak tahun 2000 pemahaman mengenai autisme semakin berkembang dan dipahami sebagai spektrum dengan karakteristik yang beragam, sehingga pendekatan pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu melalui penggunaan Individualized Education Program (IEP), pendekatan berbasis komunitas, serta kolaborasi intensif dengan orang tua.

Dalam pemaparannya, Ukai Saito menyoroti pentingnya memori kerja, pendekatan sensorimotor, dan pengembangan kemampuan sosial sebagai dasar dalam mendukung pembelajaran anak dengan ASD. Menurutnya, strategi pembelajaran yang mengombinasikan stimulasi visual dan auditori dapat membantu anak memahami informasi dengan lebih baik, terutama dalam proses komunikasi serta keterampilan membaca dan menulis. Pendekatan ini juga dinilai efektif dalam membantu anak mempersiapkan kesiapan belajar melalui kemampuan dasar seperti melihat, mendengar, berbicara, membaca, dan menulis secara bertahap.
Sesi berikutnya dilanjutkan dengan pemaparan dari Prof. Ryoichiro Iwanaga mengenai berbagai gangguan perkembangan saraf pada anak, seperti Autism Spectrum Disorder, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), learning disability, serta developmental coordination disorder. Ia menjelaskan bahwa prevalensi gangguan perkembangan saraf di berbagai negara terus meningkat dan semakin banyak siswa yang membutuhkan dukungan pendidikan khusus di sekolah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap guru pendidikan khusus serta layanan intervensi yang tepat akan semakin besar di masa depan.
Dalam pemaparannya, Prof. Iwanaga menekankan bahwa anak dengan gangguan belajar sering kali memiliki kemampuan intelektual yang normal tetapi mengalami kesulitan dalam keterampilan akademik tertentu seperti membaca, menulis, atau berhitung karena adanya perbedaan pada fungsi sistem saraf pusat. Sementara pada anak dengan ADHD, perilaku hiperaktif, impulsif, dan kesulitan mempertahankan perhatian sering menjadi tantangan dalam proses pembelajaran. Pada anak dengan ASD, kesulitan utama umumnya berkaitan dengan komunikasi sosial, pemahaman emosi orang lain, serta pola perilaku yang terbatas dan berulang.


Diskusi ini juga membahas berbagai strategi intervensi yang dapat diterapkan dalam mendukung perkembangan anak dengan gangguan perkembangan. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah terapi perilaku yang dapat membantu meningkatkan kontrol diri dan kepercayaan diri anak. Selain itu, keterlibatan orang tua juga sangat penting melalui pelatihan pengasuhan yang memungkinkan orang tua menerapkan strategi pendampingan secara konsisten di rumah.
Prof. Iwanaga juga menekankan pentingnya pendekatan positif dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus. Guru dan orang tua dianjurkan untuk memberikan lebih banyak pujian terhadap perilaku positif anak dibandingkan teguran terhadap perilaku yang kurang sesuai. Pujian yang diberikan secara bertahap dapat meningkatkan motivasi belajar serta membantu anak mengembangkan perilaku yang lebih adaptif.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta yang berasal dari mahasiswa maupun praktisi pendidikan. Pertanyaan yang muncul antara lain mengenai cara mengevaluasi efektivitas program regulasi emosi melalui aktivitas fisik pada anak dengan autisme yang sering mengalami tantrum serta strategi menjaga fokus anak selama proses intervensi. Narasumber menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan harus mempertimbangkan usia perkembangan anak, penggunaan instruksi visual, pengurangan distraksi di lingkungan belajar, serta kolaborasi yang konsisten antara guru dan orang tua.
Ketua Program Studi Pendidikan Khusus, Dr. dr. Riksma Nurahmi Rinalti Akhlan, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan diskusi ini memiliki peran penting dalam memperluas wawasan akademik mahasiswa dan dosen mengenai pendekatan penanganan anak dengan gangguan perkembangan yang berbasis penelitian internasional. Ia menilai bahwa kolaborasi dengan mitra internasional seperti UKAI International Employment menjadi peluang strategis bagi Program Studi Pendidikan Khusus untuk memperkuat jejaring global sekaligus meningkatkan kompetensi lulusan dalam menghadapi kebutuhan layanan pendidikan khusus yang terus berkembang.
Ia juga berharap kegiatan akademik seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga mahasiswa Pendidikan Khusus tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh wawasan praktik dan pengalaman global dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian, Program Studi Pendidikan Khusus FIP UPI dapat terus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan inklusif dan peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
