Bandung — Kompetensi guru dalam mengimplementasikan Education for Sustainable Development (ESD) tidak ditentukan oleh faktor demografis seperti gender, lama mengajar, maupun status kepegawaian. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang diketuai oleh Dr. Dadi Mulyadi, S.Pd., M.T. dengan anggota peneliti Lucia Ekawati Ikanubun, M.Ed. dan Ridha Hidayani, M.Pd., serta melibatkan mahasiswa Program Studi Teknologi Pendidikan UPI, yaitu Rena Rismayanti dan Elsa Audia
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru laki-laki dan perempuan, guru senior maupun pemula, serta guru ASN dan non-ASN memiliki tingkat kompetensi ESD yang relatif setara. Temuan ini menantang anggapan bahwa pengalaman mengajar yang panjang atau status kepegawaian tertentu secara otomatis membuat guru lebih siap dalam mengimplementasikan ESD.
“Kompetensi ESD tidak berkembang secara alamiah hanya karena lama mengajar. Faktor yang paling menentukan justru adalah kesempatan belajar melalui pelatihan, dukungan sekolah, dan akses terhadap sumber belajar,” ungkap Ketua Peneliti, Dr. Dadi Mulyadi.
Sikap Positif, Praktik Pembelajaran Masih Terbatas
Penelitian ini juga menemukan bahwa secara umum guru memiliki sikap dan komitmen yang positif terhadap nilai-nilai keberlanjutan. Guru menyadari pentingnya pendidikan lingkungan, keadilan sosial, dan tanggung jawab global dalam pembelajaran.
Namun demikian, kompetensi pedagogis dan praktik pembelajaran ESD masih berada pada kategori sedang hingga rendah. Pembelajaran ESD di sekolah masih didominasi oleh penyampaian konsep, belum berkembang secara optimal menjadi pembelajaran berbasis aksi dan pemecahan masalah nyata.
“Kesenjangan antara sikap dan praktik menjadi tantangan utama. Guru memiliki kepedulian, tetapi masih membutuhkan penguatan dalam strategi pedagogis ESD,” jelas salah satu anggota tim peneliti.
Pelatihan dan Dukungan Sekolah Menjadi Faktor Kunci
Hasil penelitian menegaskan bahwa pelatihan profesional ESD yang berkelanjutan, dukungan kepala sekolah, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi faktor utama dalam meningkatkan kompetensi guru. Guru yang mengikuti pelatihan ESD dan didukung oleh kebijakan sekolah yang kondusif menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengintegrasikan nilai keberlanjutan ke dalam pembelajaran.
Pemanfaatan teknologi seperti modul digital, learning management system (LMS), dan microlearning juga dinilai efektif dalam membantu guru menerapkan pedagogi ESD secara kontekstual dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Dorong Pedagogi Transformatif di Sekolah
Penelitian ini merekomendasikan penerapan pedagogi transformatif dalam ESD, yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan refleksi kritis, kolaborasi, dan tindakan nyata. Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya memahami isu keberlanjutan, tetapi juga terlibat aktif dalam solusi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kebijakan dan model pelatihan guru ESD berbasis teknologi, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas.
