Kabupaten Bogor – Proses finalisasi Pedoman Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) terus dilakukan melalui serangkaian diskusi intensif yang menitikberatkan pada penyelarasan substansi, penyederhanaan struktur, serta penguatan nilai-nilai dasar pendidikan. Kegiatan yang dilaksanakan pada 29 April – 1 Mei 2026 di Hotel Harris Cibinong, Kabupaten Bogor ini diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Mario Emilzoli, M.Pd., dosen Program Studi Teknologi Pendidikan dan Pengembangan Kurikulum, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), terlibat sebagai salah satu tim penyusun yang aktif memberikan kontribusi dalam penyempurnaan dokumen pedoman.
Pembahasan difokuskan pada penguatan arah konseptual kurikulum agar lebih operasional, mudah dipahami, serta tidak bersifat terlalu teknis atau membatasi implementasi di satuan pendidikan. Salah satu poin penting yang disepakati adalah penyederhanaan struktur pada beberapa bagian, termasuk penataan ulang Bab Kemitraan dan Kolaborasi Pendidikan agar lebih bersifat strategis dan tidak terlalu mengatur secara rinci bentuk implementasi di lapangan.
Selain itu, penguatan karakter menjadi perhatian utama dalam proses revisi. Karakter tidak lagi diposisikan sebagai komponen tambahan, melainkan sebagai inti yang mengarahkan seluruh proses pembelajaran. Pendekatan ini memastikan bahwa pengembangan kompetensi peserta didik tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan keterampilan, tetapi juga pada pembentukan nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, kolaborasi, empati, dan disiplin.
Dalam konteks visualisasi kurikulum, dilakukan pula penyesuaian terhadap berbagai diagram dan ilustrasi dalam pedoman. Penyempurnaan dilakukan agar lebih sederhana, tidak terlalu kompleks, serta menampilkan hubungan yang jelas antara pengembangan kompetensi, learning progression antar jenjang, dan penguatan karakter sebagai benang merah. Model pembelajaran yang sebelumnya bersifat kompleks dan berlapis disederhanakan menjadi lebih linear dan mudah dipahami oleh satuan pendidikan.
Dr. Mario Emilzoli menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kekuatan konseptual dan kemudahan implementasi. “Pedoman ini harus mampu menjadi arah yang jelas bagi sekolah, namun tetap memberikan ruang fleksibilitas agar dapat disesuaikan dengan konteks masing-masing satuan pendidikan. Penguatan karakter juga harus terlihat sebagai bagian integral dari sistem, bukan sekadar tambahan,” ujarnya.
Hasil dari pembahasan ini menunjukkan bahwa Pedoman Sekolah Nasional Terintegrasi semakin mengarah pada model kurikulum yang utuh, berkelanjutan, dan kontekstual, dengan menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran yang berkembang secara akademik, keterampilan, dan karakter secara seimbang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam menghadirkan model pendidikan yang terintegrasi antar jenjang, relevan dengan kebutuhan masa depan, serta mampu membentuk generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.
