Menghadapi Era AI, Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi UPI Kupas Tuntas Transformasi Menuju Knowledge Hub

BANDUNG, 19 Mei 2026 – Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sukses menyelenggarakan kuliah umum Praktisi Mengajar untuk mata kuliah Manajemen Kelembagaan Informasi. Kuliah yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Nurru Alfi Fazri Furau’ki, S.Ptk., M.I.Kom. (Kepala Perpustakaan Institut Teknologi Sains Bandung) sebagai narasumber utama dengan tema “From Library to Knowledge Hub: Transformasi Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era AI”.
Kegiatan akademis ini dipandu langsung oleh tim dosen pengampu mata kuliah, Dr. Hana Silvana, S.Pd., M.Si., dan Lutfi Khoerunnisa, M.I.Kom., serta didukung penuh oleh Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UPI, Dr. Linda Setiawati, M.Pd.
Dalam pemaparannya, Nurru Alfi menegaskan bahwa pesatnya perkembangan Generative AI (Gen-AI) seperti ChatGPT dan Gemini harus direspon sebagai peluang besar. Perpustakaan perguruan tinggi wajib berevolusi dari tempat penyimpanan buku konvensional (library) menjadi pusat sirkulasi pengetahuan digital yang aktif, dinamis, dan terintegrasi (Knowledge Hub).

Secara komprehensif, kuliah umum ini merumuskan lima pilar utama dalam peta jalan transformasi perpustakaan perguruan tinggi:
1. Peta Arsitektur Knowledge Hub
Untuk membangun ekosistem pengetahuan digital yang ideal, lembaga informasi harus mengintegrasikan empat komponen utama:
1. Knowledge Portals: Gerbang utama akses informasi digital yang inklusif bagi seluruh sivitas akademika.
2. Search and Retrieval Systems: Mesin pencari internal cerdas untuk memastikan penemuan kembali dokumen secara presisi.
3. Content Management Systems (CMS): Sistem tata kelola konten untuk merawat seluruh aset pengetahuan institusi.
4. Collaboration Tools: Platform digital yang memfasilitasi interaksi dan kolaborasi riset antar-peneliti.

2. Infrastruktur Otomasi dan Standarisasi Global
Implementasi Knowledge Hub wajib ditopang oleh kesiapan infrastruktur teknologi modern, meliputi Online Public Access Catalog (OPAC), Digital Repository berbasis Open Access (seperti DSpace atau EPrints), serta Integrated Library System (ILS) untuk efisiensi manajemen sirkulasi.
Selain itu, dokumen akademik (skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal) harus dikelola dengan standar internasional menggunakan metadata yang kaya serta sistem penomoran unik seperti DOI (Digital Object Identifier) dan ORCID bagi para peneliti. Langkah tata kelola digital ini mengacu pada best practice yang diterapkan institusi dunia seperti MIT Libraries dan University of Edinburgh.

3. Optimalisasi Gen-AI dalam Alur Kerja Perpustakaan
Pada sesi ini yaitu membedah pemanfaatan taktis alat bertenaga AI untuk mendongkrak efisiensi layanan, mulai dari otomatisasi deskripsi metadata dokumen, klasifikasi subjek, analisis kebutuhan pemustaka berbasis data prediktif, hingga implementasi chatbot pintar untuk layanan referensi 24/7.

4. Mitigasi Risiko Etika Informasi dan Penegakan Integritas
Meskipun AI menawarkan efisiensi, perpustakaan memegang peranan krusial dalam memitigasi risiko etika seperti halusinasi data AI (AI hallucinations), bias algoritma, hak cipta (copyright), dan plagiarisme. Di sinilah pustakawan bertindak sebagai navigator informasi untuk melatih pemustaka melalui program Literasi AI, penguasaan reference manager (Mendeley/Zotero), serta verifikasi karya melalui Turnitin. Untuk mendukung dinamika ini, organisasi perpustakaan perlu direstrukturisasi ke dalam unit kerja yang adaptif: Layanan Pengguna, Pengembangan Koleksi, Repository & Data Riset, serta Teknologi & Sistem Informasi.

5. Rekomendasi dan Pergeseran Peran Pustakawan
Di akhir sesi, Nurru Alfi menekankan bahwa kunci keberhasilan transformasi ini berada pada sumber daya manusianya. Pustakawan harus bergeser peran dari seorang penjaga buku (book keeper) menjadi pengelola pengetahuan (Knowledge Manager atau Information Navigator). Pustakawan masa kini dituntut untuk terus melakukan pembelajaran berkelanjutan (continuous learning) agar tetap relevan dengan ekosistem digital yang dinamis.
Acara berjalan dengan interaktif dan diakhiri dengan sesi tanya jawab, penyerahan sertifikat penghargaan secara digital kepada narasumber, serta sesi foto bersama sebagai dokumentasi resmi kegiatan. Melalui integrasi teknologi yang bijak dan beretika, Perpustakaan Perguruan Tinggi diharapkan sukses bertransformasi menjadi episentrum pengetahuan yang mandiri, aman, dan berdampak luas di kancah nasional maupun internasional.

Scroll to Top