Dr. Mario Emilzoli Terlibat dalam Penyusunan Konsep Sekolah Nasional Terintegrasi Kemendikdasmen

Jakarta, 19 Mei 2026 – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan kebijakan pendidikan nasional melalui keterlibatan aktif dosen dalam penyusunan konsep Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui partisipasi Dr. Mario Emilzoli, M.Pd., dosen Program Studi Pengembangan Kurikulum, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPI, sebagai Tim Kurikulum SNT pada kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Penyusunan Konsep Kurikulum dan Program Ruang Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang diselenggarakan di Artotel Gelora Senayan, Jakarta.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah ini bertujuan merumuskan hubungan antara visi pendidikan SNT, desain kurikulum STEAMS+, model pembelajaran, serta kebutuhan program ruang dan sarana prasarana pendidikan . Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, ahli kurikulum, praktisi pendidikan internasional, serta tim arsitek untuk menerjemahkan konsep pendidikan ke dalam konsekuensi spasial dan desain lingkungan belajar.

Dalam forum tersebut, Dr. Mario Emilzoli bersama tim kurikulum SNT membawakan sesi “Rancangan Kurikulum SNT” yang membahas pengembangan STEAMS+, multilingual, sertifikat pendamping ijazah, serta konsep mini laboratorium berbasis kearifan lokal sebagai karakteristik utama SNT .

Menurut Dr. Mario Emilzoli, konsep SNT tidak dimaksudkan sekadar mengintegrasikan jenjang SD, SMP, dan SMA dalam satu kawasan fisik, melainkan membangun ekosistem pembelajaran berkesinambungan lintas jenjang yang didukung kurikulum, pengalaman belajar, serta sistem pengembangan peserta didik yang terhubung.

“Integrasi dalam SNT bukan berarti mencampurkan seluruh jenjang dalam satu ruang yang sama, tetapi membangun kesinambungan perkembangan belajar, talenta, dan pengalaman peserta didik dari fase fondasi, penguatan, hingga pendalaman. Konsep ini menuntut desain ruang yang mampu mendukung perjalanan belajar tersebut,” ungkap Dr. Mario.

Lebih lanjut, diskusi juga menyoroti implikasi kurikulum terhadap kebutuhan ruang pendidikan masa depan. Pendekatan STEAMS+ dipandang memerlukan transformasi ruang belajar konvensional menjadi ruang yang lebih fleksibel dan kontekstual, seperti laboratorium terpadu, maker space, living laboratory, pusat sumber belajar, ruang talenta, community hub, hingga ruang rekognisi capaian peserta didik.

Salah satu gagasan yang mendapat perhatian dalam diskusi adalah pengembangan mini laboratorium berbasis kearifan lokal, yaitu ruang belajar yang memanfaatkan potensi daerah sebagai sumber belajar nyata. Konsep ini memungkinkan sekolah mengembangkan laboratorium yang tidak selalu berbentuk ruang tertutup, tetapi dapat berupa ruang terbuka, area eksplorasi lingkungan, laboratorium komunitas, maupun ruang berbasis budaya lokal.

FGD ini juga menempatkan aspek spasial sebagai bagian penting dari implementasi kurikulum. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang umumnya memulai perancangan sekolah dari standar luasan bangunan, forum ini menekankan bahwa kurikulum dan pedagogi harus menjadi titik awal dalam menentukan kebutuhan ruang pendidikan .

Keterlibatan UPI dalam forum ini tidak hanya melalui Dr. Mario Emilzoli, tetapi juga menghadirkan Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.A., ahli kurikulum pendidikan dasar Indonesia, yang membahas karakteristik dan tantangan kurikulum pendidikan dasar-menengah nasional .
Melalui partisipasi ini, UPI kembali menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam pengembangan kebijakan pendidikan nasional, khususnya pada bidang kurikulum, pembelajaran, dan inovasi pendidikan. Kontribusi akademisi UPI diharapkan dapat memperkuat perumusan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) sebagai model pendidikan masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan lingkungan belajar yang adaptif, kontekstual, dan relevan dengan tantangan global.

Scroll to Top