Garden-Mind Hadirkan Terapi Berkebun Berbasis Hidroponik untuk Dukung Kesehatan Mental Anak Binaan LPKA Kelas II Bandung

Bandung, 3 Agustus 2026 – Upaya meningkatkan kesehatan mental anak binaan melalui pendekatan yang inovatif terus dilakukan oleh dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Garden-Mind: Intervensi Therapeutic Gardening Berbasis Hidroponik terhadap Anxiety & Stress Disorders pada Anak Binaan LPKA Kelas II Bandung”, tim pengabdian melaksanakan pertemuan kedua pada Senin, 3 Agustus 2026, di area praktik Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung.

Kegiatan ini merupakan implementasi hibah Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Tahun 2026 yang mengintegrasikan pendekatan psikologi dan pendidikan khusus melalui therapeutic gardening berbasis hidroponik sebagai media intervensi untuk membantu mengurangi kecemasan (anxiety) dan stres pada anak binaan. Berbeda dengan pelatihan hidroponik pada umumnya, program Garden-Mind dirancang agar setiap aktivitas berkebun menjadi bagian dari proses regulasi emosi, pengembangan tanggung jawab, serta peningkatan kesejahteraan psikologis peserta.

Tim pengabdian diketuai oleh Hendriano Meggy, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Khusus, beranggotakan Nita Nitiya Intan Tanbrin, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Khusus serta Selfiyani Lestari, S.Psi., M.Psi.dari Program Studi Psikologi. Kegiatan turut didukung oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus, yaitu Kayla Athaya Kaerunnisa, Intan Nuurul Azkiya, dan Widya Annisa Sari.

Program ini mendapat sambutan positif dari Kepala LPKA Kelas II Bandung, Jumedi, A.Md.IP., S.H., yang menyampaikan apresiasi atas hadirnya inovasi pengabdian yang tidak hanya memberikan keterampilan baru kepada anak binaan, tetapi juga mendukung pembinaan karakter dan kesehatan mental mereka.

Pertemuan kedua diikuti oleh enam orang anak binaan sebagai peserta utama. Menariknya, beberapa anak binaan lain yang tidak termasuk dalam kelompok intervensi juga menunjukkan ketertarikan untuk bergabung, mengamati, bahkan mencoba langsung praktik hidroponik yang sedang berlangsung. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas therapeutic gardening mampu menarik minat peserta secara alami dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Kegiatan diawali dengan check-in emosi, di mana peserta diminta mengisi lembar aktivitas untuk mengidentifikasi kondisi emosional sebelum mengikuti program. Hasil awal menunjukkan bahwa sebagian peserta datang dengan perasaan tenang, sementara sebagian lainnya mengaku berada dalam kondisi biasa.

Selanjutnya, Hendriano Meggy menyampaikan materi mengenai konsep dasar hidroponik, mulai dari pengertian, manfaat, media tanam, teknik penyemaian, proses penanaman, hingga pentingnya menjaga kualitas air melalui pengukuran dan penyesuaian pH menggunakan larutan nutrisi. Materi disampaikan secara interaktif sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui hubungan antara perawatan tanaman dengan pembentukan sikap disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab.

Memasuki sesi praktik, peserta secara langsung belajar mengukur pH air menggunakan alat ukur digital sebelum melakukan penyesuaian dengan larutan nutrisi A dan B hingga mencapai kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanaman. Setelah kualitas air dinyatakan sesuai, peserta memindahkan bibit tanaman yang sebelumnya telah disemai pada media rockwool ke dalam netpot yang telah dipasang pada instalasi hidroponik.

Tidak hanya berhenti pada proses penanaman, peserta juga diajarkan melakukan monitoring pertumbuhan tanaman melalui pencatatan hasil pengukuran pH pada lembar monitoring yang ditempatkan di instalasi hidroponik. Tim pengabdian kemudian memberikan pendampingan mengenai pentingnya melakukan pengecekan dan penyesuaian pH secara berkala agar tanaman dapat tumbuh optimal. Pendekatan ini sekaligus melatih peserta untuk membangun kebiasaan melakukan observasi, pencatatan, dan evaluasi secara berkelanjutan.

Selama kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Rasa ingin tahu mereka terhadap sistem hidroponik mendorong terjadinya diskusi aktif bersama tim pengabdian. Bahkan, beberapa anak binaan lain yang awalnya hanya menyaksikan dari kejauhan akhirnya ikut mencoba praktik hidroponik karena merasa tertarik dengan kegiatan tersebut.

Meskipun cuaca siang yang cukup panas dan waktu kegiatan yang mendekati jam makan siang sempat memengaruhi kondisi fisik serta emosi beberapa peserta, seluruh rangkaian kegiatan tetap dapat diikuti hingga selesai dengan pendampingan dari tim pengabdian dan petugas LPKA.

Sebagai bagian dari pendekatan psikologis, kegiatan ditutup dengan sesi check-out emosi dan refleksi bersama. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan kondisi emosional peserta setelah mengikuti therapeutic gardening. Sebagian peserta menyampaikan bahwa mereka merasa lebih tenang, sementara beberapa lainnya mengungkapkan perasaan senang karena dapat belajar keterampilan baru sekaligus merawat tanaman secara langsung.

Ketua Tim Pengabdian, Hendriano Meggy, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa Garden-Mind tidak hanya berorientasi pada pembelajaran hidroponik, tetapi lebih jauh dirancang sebagai media intervensi psikososial yang memanfaatkan aktivitas berkebun untuk membantu anak mengelola emosi dan membangun keterampilan hidup.

“Melalui Garden-Mind, kami ingin menunjukkan bahwa merawat tanaman bukan sekadar aktivitas bercocok tanam, tetapi juga menjadi sarana untuk melatih kesabaran, tanggung jawab, regulasi emosi, serta membangun harapan positif bagi anak binaan. Kami berharap pendekatan therapeutic gardening ini dapat menjadi salah satu model intervensi yang berkelanjutan dalam mendukung kesehatan mental anak di lingkungan pembinaan,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Khusus dan Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia mampu menghadirkan inovasi pengabdian yang memadukan aspek pendidikan, psikologi, dan keterampilan vokasional dalam satu pendekatan yang holistik. Melalui Garden-Mind, UPI terus berkomitmen menghasilkan program pengabdian yang tidak hanya berdampak secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya anak-anak yang sedang menjalani proses pembinaan di LPKA Kelas II Bandung.

Scroll to Top