Dorong Penguatan Laboratorium, Dr. Mario Emilzoli Terlibat dalam FGD Penyusunan Suplemen IAPSK LAMDIK 3.0 untuk Program Studi Teknologi Pendidikan

Surabaya – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan mutu pendidikan tinggi melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan nasional. Salah satu dosen Program Studi Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI, Dr. Mario Emilzoli, M.Pd., turut berpartisipasi dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Suplemen Instrumen Akreditasi Program Studi Kependidikan (IAPSK) LAMDIK 3.0 untuk Program Studi Teknologi Pendidikan. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) ini dilaksanakan pada tanggal 11–13 April 2026 di Hotel Shangri-La, Surabaya, dan melibatkan perwakilan akademisi dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS-TPI). Selain Dr. Mario Emilzoli, turut hadir sebagai tim penyusun antara lain Dr. Utari Dewi, S.Sn., M.Pd. (Universitas Negeri Surabaya) dan Prof. Dr. Darmansyah, S.T., M.Pd. (Universitas Negeri Padang).

FGD ini bertujuan untuk menyempurnakan instrumen akreditasi berbasis suplemen yang lebih kontekstual dengan karakteristik Program Studi Teknologi Pendidikan sebagai bidang kependidikan non-mengajar. Fokus utama pembahasan diarahkan pada penguatan aspek praktik laboratorium, program magang, serta keselarasan capaian pembelajaran dengan profil lulusan. Dalam forum tersebut, Dr. Mario Emilzoli memberikan masukan strategis terkait pentingnya penguatan pembelajaran berbasis praktik dan produk (product-oriented learning) dalam kurikulum Program Studi Teknologi Pendidikan. Ia menekankan bahwa kegiatan laboratorium tidak hanya berfungsi sebagai sarana latihan teknis, tetapi sebagai ekosistem pembelajaran terintegrasi yang mencerminkan keseluruhan proses desain pembelajaran, mulai dari analisis kebutuhan hingga evaluasi. “Laboratorium dalam Teknologi Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai ruang, tetapi sebagai sistem yang memungkinkan mahasiswa menghasilkan produk pembelajaran secara utuh (end-to-end), yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya integrasi antar berbagai jenis laboratorium, seperti media cetak, audio visual, multimedia, hingga teknologi inovatif seperti AR/VR dan smart classroom, dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa secara komprehensif. Selain itu, dalam pembahasan terkait program magang, Dr. Mario menekankan bahwa kegiatan magang harus dirancang sebagai pengalaman belajar berbasis kerja (work-based learning) yang memungkinkan mahasiswa mengaplikasikan pengetahuan teoretis dalam konteks profesional. Program magang perlu terstruktur, berbasis proyek, dan menghasilkan portofolio sebagai bukti capaian kompetensi mahasiswa. FGD ini juga menghasilkan sejumlah penguatan pada indikator akreditasi, khususnya terkait standar minimal laboratorium, frekuensi praktik mahasiswa, serta mekanisme penilaian berbasis performa dan portofolio. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan bahwa lulusan Program Studi Teknologi Pendidikan memiliki kesiapan sebagai praktisi, asisten peneliti, maupun edutechpreneur yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Melalui keterlibatan aktif dosen UPI dalam kegiatan ini, diharapkan kontribusi akademik dapat terus mendukung penguatan sistem akreditasi nasional yang lebih relevan, adaptif, dan berorientasi pada kualitas lulusan. Kegiatan ini sekaligus mempertegas peran strategis APS-TPI dalam mengawal pengembangan standar mutu Program Studi Teknologi Pendidikan di Indonesia.

Scroll to Top