Dosen Program Studi Pendidikan Khusus FIP UPI Perkuat Kompetensi Guru PAUD dalam Pendidikan Inklusif di TK Rumah Putik Bekasi

Bekasi, 28 Juli 2026 – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pendidikan dan Pembelajaran Inklusif di PAUD” pada 27–28 Juli 2026 di TK Rumah Putik, Bekasi. Kegiatan ini merupakan implementasi program pemberdayaan guru PAUD inklusif melalui pengembangan praktik evidence-based assessment sebagai dasar penyusunan early intervention bagi anak berkebutuhan khusus. 

Workshop menghadirkan para akademisi Program Studi Pendidikan Khusus FIP UPI, yaitu Dr. Iding Tarsidi, M.Pd., Dr. Yoga Budhi Santoso, M.Pd., Hendriano Meggy, S.Pd., M.Pd., dan Nita Nitiya Intan Tanbrin, S.Pd., M.Pd., yang memberikan pelatihan secara bertahap mulai dari pengenalan keberagaman anak berkebutuhan khusus, asesmen perkembangan, penyusunan strategi pembelajaran inklusif, hingga implementasi intervensi dini berbasis data.

Ketua kegiatan, Dr. Iding Tarsidi, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa guru PAUD memiliki peran strategis dalam mendeteksi kebutuhan perkembangan anak sejak dini. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru dalam melakukan asesmen yang sistematis menjadi fondasi penting untuk memberikan layanan pendidikan yang tepat sasaran.

Sementara itu, Kepala TK Rumah Putik, Tri Wahyuni Muchtar, M.Pd., mengapresiasi kolaborasi yang dilakukan bersama Universitas Pendidikan Indonesia. Menurutnya, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi guru untuk memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan praktik asesmen yang lebih terstruktur sehingga mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif di sekolah.

Pada hari pertama, peserta mengikuti pretest untuk mengidentifikasi pemahaman awal mengenai pendidikan inklusif. Selanjutnya, Dr. Iding Tarsidi, M.Pd. menyampaikan materi mengenai keberagaman anak berkebutuhan khusus yang menekankan pentingnya memahami karakteristik individual setiap peserta didik sebagai dasar penyusunan layanan pendidikan.

Materi berikutnya disampaikan oleh Hendriano Meggy, S.Pd., M.Pd. mengenai Pendidikan dan Pembelajaran Inklusif di PAUD. Dalam sesi tersebut peserta memperoleh pemahaman mengenai penerapan pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan setiap anak serta pentingnya penggunaan data hasil asesmen dalam menyusun program pembelajaran yang tepat. Workshop kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi, tanya jawab, serta penjelasan tugas berupa identifikasi anak berkebutuhan khusus menggunakan formulir asesmen yang telah disiapkan.

Memasuki hari kedua, peserta memperoleh materi mengenai Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus yang disampaikan oleh Dr. Yoga Budhi Santoso, M.Pd. Materi ini membahas prinsip-prinsip asesmen perkembangan, teknik observasi, serta cara menginterpretasikan hasil asesmen sebagai dasar pengambilan keputusan dalam layanan pendidikan inklusif.

Selanjutnya, Nita Nitiya Intan Tanbrin, S.Pd., M.Pd. menyampaikan materi mengenai Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Peserta diajak memahami bagaimana menyusun strategi pembelajaran yang adaptif sesuai karakteristik peserta didik, sekaligus mengintegrasikan hasil asesmen ke dalam program pembelajaran dan intervensi di kelas.

Selain memperoleh materi, para guru juga mengikuti sesi diskusi, penyusunan rancangan pembelajaran, serta posttestsebagai bagian dari evaluasi peningkatan kompetensi setelah mengikuti seluruh rangkaian workshop. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi aktif dan berbagai pertanyaan yang muncul terkait implementasi pendidikan inklusif di lingkungan PAUD.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian yang berfokus pada pemberdayaan guru melalui penerapan evidence-based assessment sebagai dasar early intervention. Berdasarkan analisis kebutuhan mitra, TK Rumah Putik melayani sekitar 50 peserta didik, dengan kurang lebih 30% merupakan anak berkebutuhan khusus, sehingga penguatan kompetensi guru dalam asesmen dan penyusunan intervensi menjadi kebutuhan yang sangat penting. 

Program pengabdian ini tidak hanya memberikan pelatihan konseptual, tetapi juga membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan melalui praktik langsung, penyusunan profil perkembangan anak, pengembangan program intervensi individual, monitoring perkembangan, hingga penyusunan panduan operasional sekolah. Pendekatan tersebut dirancang agar praktik asesmen dan intervensi dini dapat menjadi budaya kerja yang terus diterapkan oleh sekolah setelah program selesai. 

Melalui kegiatan ini, Universitas Pendidikan Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan inklusif sejak usia dini. Sinergi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan diharapkan mampu memperkuat kapasitas guru dalam memberikan layanan yang lebih tepat, terukur, dan berbasis bukti sehingga setiap anak memperoleh kesempatan berkembang secara optimal sesuai potensi dan kebutuhannya (Meggy).

Scroll to Top