Bogor – Pusat Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terus melanjutkan penyempurnaan Pedoman Sekolah Nasional Terintegrasi melalui kegiatan pembahasan lanjutan yang menitikberatkan pada penguatan aspek konseptual, khususnya pada perumusan definisi operasional Sekolah Nasional Terintegrasi.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 23–25 April 2026 di Hotel Whizz Prime Pajajaran, Bogor ini menghadirkan para akademisi dan praktisi pendidikan sebagai tim penyusun pedoman. Salah satu yang terlibat aktif adalah Dr. Mario Emilzoli, M.Pd., dosen Program Studi Teknologi Pendidikan dan Pengembangan Kurikulum, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Dalam diskusi tersebut, fokus utama diarahkan pada penyelarasan definisi Sekolah Nasional Terintegrasi agar tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga mencerminkan struktur sistem pendidikan yang utuh dan dapat diimplementasikan. Definisi yang dirumuskan menekankan bahwa Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan satuan pendidikan yang mengintegrasikan tata kelola, sistem pembelajaran antar jenjang, mekanisme penerimaan peserta didik, serta pengelolaan dalam satu kawasan layanan pendidikan.
Dr. Mario Emilzoli memberikan masukan penting agar definisi yang disusun memiliki keterkaitan langsung dengan visualisasi model sekolah terintegrasi yang telah dikembangkan. Menurutnya, definisi harus mampu merepresentasikan elemen-elemen kunci seperti integrasi manajemen, kesinambungan pembelajaran lintas jenjang, sistem rekrutmen yang terstruktur, serta pengelolaan berbasis kawasan.
“Definisi tidak cukup hanya menjelaskan apa itu sekolah terintegrasi, tetapi harus mencerminkan bagaimana sistem tersebut bekerja secara utuh. Dengan demikian, sekolah dapat memahami arah pengembangan yang diharapkan,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kesinambungan pembelajaran sebagai ciri utama Sekolah Nasional Terintegrasi, di mana proses pendidikan dirancang dalam satu lintasan perkembangan kompetensi yang berkelanjutan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Pendekatan ini diharapkan mampu menghindari fragmentasi pembelajaran serta meningkatkan efektivitas pencapaian kompetensi peserta didik.
Melalui pembahasan ini, tim penyusun berhasil merumuskan definisi yang lebih komprehensif dan operasional, yang selanjutnya akan menjadi landasan dalam pengembangan tujuan, pilar kurikulum, serta desain implementasi Sekolah Nasional Terintegrasi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam menghadirkan model pendidikan yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan, serta mampu menjawab tantangan pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di berbagai wilayah.
