Terapkan Hasil Riset BRIN, UPI Lahirkan Duta Stunting Digital melalui Program PKM di Desa Jatisari Kabupaten Bandung

KABUPATEN BANDUNG – Dosen Prodi Pendidikan Masyarakat, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan hasil penelitian menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Ibu dan Kader sebagai Duta Stunting melalui Model Pemberdayaan Berbasis Komunitas dan Media Sosial”, tim PKM dari Prodi Pendidikan Masyarakat memberdayakan ibu dan kader Posyandu di Desa Jatisari, Kabupaten Bandung, agar mampu menjadi agen perubahan dalam upaya percepatan penurunan stunting sekaligus pelopor edukasi kesehatan berbasis digital.

Program ini merupakan bentuk hilirisasi hasil penelitian yang sebelumnya dikembangkan pada tahun 2024-2025 melalui riset Model Partisipatif Peningkatan Peran Ibu Sebagai Duta Stunting Dalam Menyiapkan Generasi Emas 2045 yang didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan LPDP. Penelitian tersebut telah dilaksanakan di wilayah Bandung Raya dengan melibatkan ibu, kader Posyandu, dan kader PKK di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas mampu meningkatkan kapasitas ibu dalam berperan sebagai penggerak pencegahan stunting di lingkungan sekitarnya. Atas dasar temuan tersebut, model yang telah dikembangkan kemudian diimplementasikan melalui kegiatan PKM sebagai bentuk penerapan hasil riset kepada masyarakat.

Program PKM ini diketuai oleh Dr. Yanti Shantini, M.Pd., dengan anggota tim Dr. Dadang Yunus Lutfiansyah dan Dr. Sodikin, S.S., M.Ed., Ph.D.. Dalam pelaksanaannya, tim dosen didukung oleh mahasiswa Witri Dian Rafani dan Nurul Ilmi Apriliani yang berperan sebagai fasilitator. Keduanya mendampingi peserta selama proses pembelajaran daring, pelaksanaan belajar mandiri, hingga workshop praktik pembuatan konten edukasi kesehatan.

Dalam sambutannya, Ketua Tim PKM, menegaskan bahwa tantangan utama dalam percepatan penurunan stunting bukan hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga mendorong terjadinya perubahan perilaku yang berkelanjutan. Menurutnya, berbagai program edukasi mengenai stunting telah banyak dilakukan, namun peningkatan pengetahuan belum tentu diikuti oleh perubahan praktik dalam kehidupan sehari-hari.

“Stunting tidak dapat diatasi hanya dengan menambah pengetahuan. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku yang berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat. Karena itu, kami ingin para ibu dan kader tidak hanya memahami informasi tentang pencegahan stunting, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya. Melalui pemanfaatan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan (AI), mereka dapat menyebarluaskan edukasi kesehatan, menginspirasi keluarga lain, dan menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama mencegah stunting. Inilah wujud hilirisasi hasil riset, ketika penelitian tidak berhenti di ruang akademik, tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Ketua PKM.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 29 Juni 2026 dan 4 Juli 2026 melalui pelatihan daring yang diikuti oleh kader Posyandu Desa Jatisari. Pada tahap awal ini peserta memperoleh penguatan konsep mengenai stunting, peran keluarga dalam pencegahan stunting, konsep Duta Stunting, literasi digital, strategi komunikasi kesehatan melalui media sosial, komparasi peran kader kesehatan dengan negara Jepang, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu menyusun ide dan perencanaan konten edukasi.

Setelah sesi pelatihan daring selesai, peserta memasuki tahap belajar mandiri. Pada tahap ini mereka diminta mempraktikkan materi yang telah diperoleh dengan membuat poster edukasi, menghasilkan foto dan video pendek, serta mencoba berbagai aplikasi berbasis AI untuk mendukung proses pembuatan konten. Pendekatan belajar mandiri ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri peserta sekaligus memastikan bahwa setiap peserta memiliki pengalaman langsung dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai media edukasi.

Puncak kegiatan dilaksanakan pada 8 Juli 2026 melalui workshop produksi konten digital. Suasana aula berubah menjadi ruang belajar yang interaktif ketika para peserta mulai mempraktikkan penggunaan aplikasi penunjang untuk menjadi duta stunting seperti Google Docs, Canva, dan CapCut yang dipadukan dengan teknologi AI. Dengan pendampingan langsung dari tim dosen dan fasilitator mahasiswa, peserta belajar menyusun desain poster edukasi, mengedit video pendek, membuat narasi yang komunikatif, serta menghasilkan konten yang menarik untuk dipublikasikan melalui media sosial.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara klasikal, tetapi juga mengikuti diskusi kelompok mengenai berbagai tantangan yang dihadapi dalam pencegahan stunting di lingkungan masing-masing. Pendekatan partisipatif yang menjadi inti model hasil penelitian BRIN tetap dipertahankan sehingga peserta didorong untuk saling berbagi pengalaman, mengidentifikasi permasalahan, dan merumuskan solusi yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi masyarakat Desa Jatisari

Kegiatan ini menjadi inovasi baru dalam edukasi kesehatan masyarakat. Jika sebelumnya penyuluhan stunting lebih banyak dilakukan secara tatap muka, kini para ibu dan kader didorong untuk menjadi Duta Stunting yang mampu menyampaikan pesan-pesan kesehatan melalui platform digital. Dengan cara tersebut, informasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi, pola asuh yang tepat, sanitasi, imunisasi, dan pemantauan tumbuh kembang anak dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Peran mahasiswa sebagai fasilitator juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan program. Fasilitator mendampingi peserta secara intensif selama proses pembelajaran, mulai dari membantu penggunaan aplikasi digital, memberikan umpan balik terhadap hasil tugas belajar mandiri, hingga membimbing peserta dalam proses produksi konten edukasi. Pendampingan tersebut membuat peserta lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi digital yang sebelumnya belum banyak digunakan dalam kegiatan Posyandu maupun PKK.

Program ini memperoleh respons yang sangat positif dari para peserta. Mereka menilai pendekatan yang digunakan berbeda dari pelatihan kesehatan pada umumnya karena tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan.

Salah seorang peserta, Debby Melani Usman, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang diselenggarakan oleh tim PKM UPI.

“Sangat bermanfaat ada pelatihan ini. Semoga sukses kegiatan PKM 2026. Salam sukses untuk Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),” ungkap Debby.

Hal senada disampaikan oleh Yanti Wulansari, yang berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak kader yang memperoleh manfaat.

“Semoga ke depannya kami lebih bisa memahami lagi penyampaian materi dan kegiatan seperti ini terus memberikan manfaat bagi para kader,” tutur Yanti.

Testimoni para peserta menunjukkan bahwa integrasi antara pemberdayaan masyarakat, literasi digital, dan pemanfaatan AI diterima dengan baik oleh masyarakat. Selain memperoleh wawasan baru mengenai pencegahan stunting, peserta juga memiliki bekal keterampilan untuk menyampaikan informasi kesehatan secara kreatif dan menarik kepada masyarakat melalui media sosial.

Sebagai tindak lanjut, tim PKM telah menyusun strategi keberlanjutan program melalui pembentukan komunitas Duta Stunting Desa Jatisari, pendampingan pengelolaan media sosial edukasi kesehatan, integrasi kegiatan dengan program rutin Posyandu dan PKK, serta kolaborasi bersama mahasiswa dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M). Langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan gerakan edukasi kesehatan sehingga manfaat program tidak berhenti setelah pelatihan selesai.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat, dan dukungan riset BRIN, UPI kembali menunjukkan perannya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan penelitian berkualitas, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program PKM ini menjadi bukti bahwa hasil riset dapat diterjemahkan menjadi aksi pemberdayaan yang memperkuat kapasitas masyarakat, mendorong perubahan perilaku, serta mendukung percepatan penurunan stunting menuju terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

 

 

Scroll to Top