Dalam upaya memperkuat kolaborasi akademik serta memperluas diseminasi gagasan inovatif di bidang pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI menyelenggarakan Webinar Collaboration Series 2 (WCS 2) dengan topik “Pembelajaran Transformatif melalui Biblioterapi Berbasis Pengetahuan Lokal: Menghidupkan Cerita, Menguatkan Karakter, Memberdayakan Masyarakat”. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 13.00–15.00 WIB secara daring melalui Zoom Meeting dan terbuka bagi masyarakat umum.
Webinar ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki kepakaran di bidang pendidikan, literasi, dan ilmu perpustakaan, yaitu Hj. Susanti Agustina, Ph.D., dosen Universitas Pendidikan Indonesia, serta Wina Erwina, Ph.D., dosen Universitas Padjadjaran. Melalui pemaparan kedua narasumber, peserta akan diajak memahami bagaimana biblioterapi yang dipadukan dengan pengetahuan lokal dapat menjadi pendekatan pembelajaran yang transformatif dalam membangun karakter, memperkuat identitas budaya, sekaligus memberdayakan masyarakat melalui kekuatan cerita.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang dialog ilmiah yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, pendidik, pegiat literasi, serta masyarakat luas untuk mendiskusikan berbagai praktik dan gagasan mengenai pemanfaatan cerita dan kearifan lokal sebagai media pembelajaran yang relevan dengan tantangan pendidikan masa kini. Selain memperkaya wawasan peserta, webinar ini juga menjadi wadah untuk memperkuat jejaring kolaborasi lintas disiplin dalam mendukung pengembangan pendidikan yang lebih inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan.

Pendaftaran webinar dibuka pada 3–27 Agustus 2026. Kegiatan ini tidak dipungut biaya bagi peserta yang mengikuti webinar. Bagi peserta yang menginginkan e-sertifikat, dikenakan biaya administrasi sebesar Rp15.000, dengan potongan harga khusus bagi peserta yang telah mengikuti Webinar Collaboration Series 1 (WCS 1).
Melalui penyelenggaraan Webinar Collaboration Series 2, diharapkan semakin banyak pihak yang terinspirasi untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang berakar pada kekayaan pengetahuan lokal sebagai sumber belajar yang bermakna. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga mampu menghidupkan cerita, menguatkan karakter, serta memberikan kontribusi nyata bagi pemberdayaan masyarakat.

