
Bandung, 2026 – Komitmen Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam mewujudkan pendidikan inklusif bertaraf internasional kembali ditunjukkan melalui kunjungan strategis ke Jepang. Pada 23–26 Maret 2026, Ketua Program Studi Pendidikan Khusus UPI, Dr. dr. Riksma Nurahmi R.A., M.Pd., bersama Dr. Een Ratnengsih, M.Pd. selaku Kepala Divisi Difusi Inklusi Direktorat BKDIPK UPI, memenuhi undangan resmi The National University Corporation Tsukuba University of Technology (NTUT).
Kunjungan ini difokuskan pada pembahasan penguatan kerja sama akademik antara UPI dan NTUT, khususnya dalam pengembangan Memorandum of Agreement (MoA) serta eksplorasi peluang program student mobility untuk tahun 2026–2027. NTUT dikenal sebagai satu-satunya universitas di Jepang yang secara khusus melayani mahasiswa tunanetra dan tunarungu, sehingga menjadi mitra strategis dalam pengembangan pendidikan inklusif berbasis teknologi dan praktik terbaik internasional.

Dalam agenda tersebut, kedua institusi mendiskusikan berbagai skema mobilitas mahasiswa, termasuk peluang pertukaran mahasiswa penyandang disabilitas, penguatan sistem pendampingan akademik, serta pemanfaatan teknologi asistif dalam mendukung proses pembelajaran. Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga untuk memberikan pengalaman belajar lintas budaya yang inklusif dan setara.
Selain itu, pembahasan juga mencakup rencana pengembangan program jangka panjang seperti dual degree dan double degree, yang diharapkan dapat memberikan pengakuan akademik lintas negara serta memperkuat daya saing lulusan di tingkat global.

Ketua Program Studi Pendidikan Khusus UPI, Dr. Riksma Nurahmi R.A., M.Pd., dalam tanggapannya menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan langkah strategis dalam memastikan keberlanjutan dan kualitas kerja sama internasional. “Kerja sama dengan NTUT memiliki nilai yang sangat penting karena mereka memiliki pengalaman dan sistem yang sangat maju dalam melayani mahasiswa penyandang disabilitas. Melalui program student mobility yang sedang kami rancang untuk 2026–2027, kami ingin memberikan kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa disabilitas, untuk merasakan langsung pengalaman belajar di lingkungan internasional yang inklusif,” ujarnya.
Beliau juga menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari visi besar program studi dalam membangun ekosistem pendidikan khusus yang berstandar global. “Kami tidak hanya mengirim mahasiswa untuk belajar, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi agen perubahan dalam pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia. Pengalaman internasional ini diharapkan mampu membentuk kompetensi profesional, kemandirian, serta perspektif global mahasiswa,” tambahnya.
Melalui penguatan kerja sama dengan NTUT, UPI berharap dapat terus memperluas akses pendidikan internasional yang inklusif, serta menciptakan peluang kolaborasi yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan khusus. Program student mobility 2026–2027 ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mencetak lulusan yang unggul, adaptif, dan siap berkontribusi di tingkat global.
