
Bandung (06 Oktober 2026). Keikutsertaan Program Studi Pendidikan Masyarakat dalam forum tersebut memiliki arti strategis. Internasionalisasi Penmas tidak hanya diarahkan pada peningkatan mobilitas akademik, tetapi juga pada perluasan jejaring kelembagaan, pengembangan pembelajaran berwawasan global, penguatan kompetensi mahasiswa, serta kolaborasi dalam pengembangan pendidikan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat di tingkat internasional.
Penguatan Program Internasional Berbasis Tata Kelola
Pembahasan dalam rapat menempatkan penggunaan dana sebagai bagian integral dari pengembangan program internasional. Pengelolaan anggaran diarahkan agar memiliki keterkaitan yang jelas dengan program, sasaran, dan capaian yang ingin dikembangkan oleh masing-masing unit akademik.
Bagi Program Studi Pendidikan Masyarakat, arah tersebut menjadi momentum untuk memastikan bahwa pengembangan program internasional memiliki basis perencanaan yang kuat dan memberikan dampak langsung terhadap penguatan mutu akademik.
Ketua Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, Dr. Yanti Shantini, M.Pd., menilai internasionalisasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan akademik yang terencana, bukan sekadar kegiatan seremonial atau mobilitas.
“Internasionalisasi Program Studi Pendidikan Masyarakat perlu diarahkan pada penguatan jejaring akademik, pengembangan kapasitas mahasiswa dan dosen, serta kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata bagi pengembangan keilmuan dan praktik pendidikan masyarakat. Karena itu, program internasional harus dirancang secara terukur dan didukung tata kelola pembiayaan yang baik.”
Menurutnya, karakteristik Pendidikan Masyarakat yang bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan sosial dan kebutuhan belajar masyarakat membuka ruang yang luas bagi pengembangan kerja sama internasional. Isu seperti lifelong learning, adult education, community empowerment, nonformal education, workforce development, dan pendidikan berbasis komunitas merupakan bidang yang memiliki relevansi lintas negara.
Penmas Dorong Internasionalisasi yang Berdampak
Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, Dr. Dadang Yunus Lutfiansyah, M.Pd., menekankan bahwa internasionalisasi perlu diterjemahkan ke dalam pengalaman akademik yang konkret bagi mahasiswa dan dosen.
“Internasionalisasi Penmas harus bergerak dari sekadar orientasi pada kegiatan menuju penguatan kapasitas. Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan perspektif pendidikan masyarakat dari berbagai negara, sementara dosen memiliki ruang yang lebih luas untuk membangun riset, publikasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kerja sama akademik internasional.”
Menurut Dr. Dadang, penguatan program internasional juga memiliki hubungan erat dengan agenda pengembangan community learning management. Perubahan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja yang semakin global menuntut lulusan Pendidikan Masyarakat memiliki kemampuan untuk bekerja dalam lingkungan yang multikultural, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mengelola program pembelajaran masyarakat dalam konteks yang lebih luas.
“Karena itu, investasi program internasional pada akhirnya bukan hanya investasi kelembagaan, tetapi juga investasi pada kualitas sumber daya manusia. Yang penting adalah bagaimana setiap dukungan sumber daya dapat dikonversikan menjadi pengalaman belajar, jejaring, kompetensi, dan kontribusi akademik yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sinkronisasi Anggaran dan Program
Rapat tersebut juga memperlihatkan pentingnya sinkronisasi antara perencanaan program dan dukungan pembiayaan. Pengembangan agenda internasional memerlukan desain program yang jelas, sasaran yang terukur, serta pemanfaatan anggaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks ini, penguatan tata kelola menjadi fondasi agar program internasional tidak berjalan secara parsial. Program studi perlu memiliki peta kebutuhan, prioritas kerja sama, sasaran mitra, bentuk kegiatan, serta indikator keberhasilan yang dapat digunakan untuk mengukur dampak program.
Bagi Penmas, pendekatan tersebut dapat diarahkan pada pengembangan beberapa agenda strategis, antara lain student mobility, visiting lecturer, joint research, international community service, collaborative publication, international internship, serta pengembangan jejaring dengan institusi pendidikan masyarakat dan organisasi komunitas di berbagai negara.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi Pendidikan Masyarakat UPI dalam merespons perubahan masyarakat global. Pendidikan masyarakat tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan lokal, tetapi juga dengan isu migrasi, perubahan dunia kerja, transformasi digital, pembelajaran sepanjang hayat, ketimpangan akses pendidikan, serta kebutuhan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan global.
Menuju Internasionalisasi yang Berkelanjutan
Rapat pembahasan penggunaan dana dan program internasional menjadi bagian dari upaya UPI membangun keselarasan antara kebijakan institusi, perencanaan program, dan pengelolaan sumber daya. Forum lintas unit seperti ini penting untuk memastikan bahwa internasionalisasi dikembangkan secara terarah, akuntabel, dan berkelanjutan.
Bagi Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, momentum tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperkuat agenda internasionalisasi yang berbasis pada keunggulan keilmuan Penmas. Dengan mengintegrasikan pendidikan orang dewasa, pembelajaran masyarakat, pemberdayaan, pengembangan kompetensi, dan employability, internasionalisasi Penmas diharapkan tidak berhenti pada perluasan jejaring, tetapi menghasilkan kontribusi akademik dan sosial yang lebih luas.
Agenda tersebut juga sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Bermutu, melalui penguatan akses terhadap pengalaman dan jejaring pembelajaran global, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui pengembangan kolaborasi lintas institusi dan lintas negara.
Dengan demikian, penguatan program internasional bukan hanya menjadi agenda pengembangan institusi, tetapi juga bagian dari strategi UPI dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang semakin terbuka, kolaboratif, dan responsif terhadap tantangan masyarakat global.(Korespondensi : Dadang Yunus Lutfiansyah).
