
Bandung – Sesi kedua keynote speaker dalam The 16th International Conference on Special Education in the Southeast Asia Region (ICSAR 2026) menghadirkan tiga pakar internasional, yaitu Ukai Saito dari TASUC Corporation, Jepang; Prof. Liu Xinxue, Ph.D. dari Nanjing Normal University, Tiongkok; dan Dr. Wan Zakaria Wan Abu Bakar, pendiri dan mentor Bizara, Malaysia. Ketiga pembicara membagikan perspektif mengenai pengembangan pendidikan khusus, dukungan bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus, serta penguatan sistem pendidikan yang lebih inklusif melalui pengalaman dan praktik dari negara masing-masing.
ICSAR 2026 diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan tema “Advancing Inclusive and Resilient Special Education Ecosystems: Research, Innovation, and Cross-Cultural Collaboration in the Asia Region”. Kehadiran para pembicara dari Jepang, Tiongkok, dan Malaysia memperluas ruang pertukaran pengetahuan lintas negara sekaligus memberikan perspektif komparatif bagi pengembangan pendidikan khusus dan pendidikan inklusif di Indonesia.
Ukai Saito dari TASUC Corporation, Jepang, membawa pengalaman panjang dalam pendidikan dan dukungan bagi anak dengan disabilitas perkembangan. Sebelum memimpin TASUC Corporation, ia pernah bekerja sebagai guru di sekolah bagi peserta didik dengan hambatan penglihatan dan sekolah pendidikan khusus, serta menjadi peneliti di lembaga nasional Jepang yang berfokus pada pendidikan khusus. Bidang keahliannya mencakup pendidikan dan dukungan bagi anak dengan disabilitas perkembangan dan hambatan intelektual, penanganan masalah perilaku, psikologi anak dan keluarga, serta konsultasi kelembagaan.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif mengenai pentingnya dukungan individual yang terstruktur dan berkelanjutan bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus. Pengembangan layanan pendidikan perlu mempertimbangkan karakteristik, potensi, kebutuhan belajar, dan lingkungan anak. Kolaborasi antara pendidik, keluarga, dan tenaga profesional juga menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa program pendidikan dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Pembicara berikutnya, Prof. Liu Xinxue, Ph.D. dari Nanjing Normal University, Tiongkok, turut memberikan perspektif akademik internasional dalam pengembangan pendidikan khusus. Kehadirannya menjadi bagian dari pertukaran pengalaman antarnegara yang bertujuan memperkaya pemahaman mengenai pengembangan sistem, praktik, dan inovasi pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas. Melalui forum ini, perspektif akademik dari Tiongkok menjadi bagian dari dialog yang lebih luas mengenai penguatan layanan pendidikan khusus dan kolaborasi penelitian di kawasan Asia.

Sementara itu, Dr. Wan Zakaria Wan Abu Bakar dari Malaysia memaparkan materi bertajuk “Inclusive Education in Malaysia: Frameworks, Policies, and Pathways for Empowering Special Needs Students”. Dalam paparannya, ia membahas pendidikan inklusif melalui keterkaitan antara kerangka kebijakan, sistem layanan pendidikan, dukungan sekolah, dan praktik pembelajaran. Materi tersebut menekankan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya dengan menempatkan peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah reguler, tetapi perlu memastikan bahwa mereka memperoleh kesempatan belajar, dukungan yang sesuai, dan partisipasi yang bermakna.
Dr. Wan Zakaria menjelaskan bahwa ekosistem pendidikan inklusif mencakup berbagai unsur yang saling berkaitan, mulai dari landasan kebijakan dan regulasi, jalur layanan pendidikan, kompetensi pendidik, asesmen yang adil, hingga dukungan keluarga dan masyarakat. Keberhasilan pelaksanaannya membutuhkan koordinasi antara pemerintah, sekolah, guru pendidikan khusus, guru kelas reguler, tenaga profesional, dan keluarga agar kebutuhan peserta didik dapat ditangani secara menyeluruh.
Dalam konteks Malaysia, paparannya menguraikan tiga jalur utama layanan pendidikan, yakni Sekolah Pendidikan Khas (SPK), Program Pendidikan Khas Integrasi (PPKI), dan Program Pendidikan Inklusif (PPI). Ketiga jalur tersebut menggambarkan pilihan layanan pendidikan yang perlu mempertimbangkan kebutuhan peserta didik dan dukungan yang tersedia. Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat kemampuan guru dalam menyesuaikan pembelajaran, menyediakan akomodasi, serta memastikan asesmen dapat mengukur kompetensi peserta didik secara adil.
Materi Dr. Wan Zakaria turut menekankan pentingnya pergeseran orientasi dari pendekatan yang berfokus pada keterbatasan menuju pengakuan terhadap potensi setiap anak. Pendidikan inklusif perlu menyediakan lingkungan yang mendukung, memberikan kesempatan berpartisipasi, dan menghargai keragaman kemampuan. Dengan pendekatan tersebut, sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga lingkungan yang membantu peserta didik mengembangkan kemandirian, keterampilan sosial, dan kesiapan berpartisipasi dalam masyarakat.
Ketiga pembicara menghadirkan perspektif yang saling melengkapi mengenai pengembangan pendidikan khusus dan inklusif. Pengalaman Ukai Saito dalam dukungan individual bagi anak dengan disabilitas perkembangan, kontribusi akademik Prof. Liu Xinxue dari Tiongkok, serta pembahasan Dr. Wan Zakaria mengenai kebijakan dan praktik pendidikan inklusif di Malaysia memperlihatkan pentingnya menghubungkan pengetahuan akademik, pengalaman profesional, dan pengembangan sistem pendidikan.
Melalui sesi kedua keynote speaker ICSAR 2026, peserta memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai praktik pendidikan khusus di berbagai negara sekaligus merefleksikan peluang penerapannya sesuai dengan konteks Indonesia. Pertukaran pengetahuan lintas negara diharapkan dapat mendorong pengembangan penelitian kolaboratif, peningkatan kapasitas pendidik, serta inovasi layanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.
Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI, menyampaikan apresiasi kepada Ukai Saito, Prof. Liu Xinxue, dan Dr. Wan Zakaria Wan Abu Bakar atas kontribusi mereka dalam sesi kedua keynote speaker ICSAR 2026. Apresiasi juga diberikan kepada mitra penyelenggara, panitia, dan seluruh peserta yang mendukung terselenggaranya konferensi internasional ini. Melalui kolaborasi akademik dan pertukaran pengalaman tersebut, ICSAR 2026 diharapkan memperkuat jejaring internasional serta mendorong kemajuan pendidikan khusus dan pendidikan inklusif yang lebih berkualitas, adil, dan berkelanjutan.

