Tim BESTARI UPI Uji Coba Robot Pemandu SULU, Inovasi Teknologi Asistif untuk Mendukung Mobilitas Mandiri Tunanetra

Bandung – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus mendorong pengembangan inovasi teknologi asistif untuk mendukung aksesibilitas dan kemandirian penyandang disabilitas. Melalui penelitian BESTARI bertajuk “Implementasi Model Kota Inklusi Ramah Disabilitas Berkelanjutan Berbasis Universal Design Principles dan Kearifan Lokal di Kota Bandung”, tim peneliti mengembangkan Robot Pemandu SULU, sebuah inovasi teknologi yang dirancang untuk mendukung mobilitas penyandang disabilitas netra. Sebagai bagian dari proses pengembangannya, tim peneliti melaksanakan uji coba terbatas dengan melibatkan tiga mahasiswa tunanetra Program Studi Pendidikan Khusus UPI angkatan 2026.

Kegiatan uji fungsional, kemudahan penggunaan (usability), dan pengalaman pengguna (user experience) dilaksanakan pada Senin, 12 Oktober 2026, di Gedung Al-Furqon, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI, lantai 2, Jalan Dr. Setiabudhi, Kota Bandung. Pengujian ini menjadi tahapan penting untuk mengevaluasi fungsi perangkat, memperoleh masukan langsung dari pengguna, serta mengidentifikasi aspek yang perlu disempurnakan sebelum pengembangan Robot Pemandu SULU dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Penelitian BESTARI tersebut berangkat dari kebutuhan untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang lebih aksesibel dan inklusif bagi seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas netra. Akses terhadap fasilitas pendidikan, ruang publik, transportasi, dan berbagai layanan perkotaan merupakan bagian penting dari kesempatan seseorang untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Namun, hambatan pada lingkungan fisik maupun keterbatasan akses terhadap informasi dapat memengaruhi mobilitas dan kemandirian tunanetra. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi yang menggabungkan pengembangan teknologi dengan prinsip desain lingkungan yang ramah bagi semua orang.

Dalam konteks itu, Robot Pemandu SULU dikembangkan sebagai salah satu alternatif teknologi asistif untuk mendukung mobilitas penyandang disabilitas netra. Kehadiran robot ini merupakan bagian dari upaya penelitian dalam mengeksplorasi pemanfaatan teknologi untuk membantu pengguna berinteraksi dengan lingkungan secara lebih aksesibel. Pengembangan SULU tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis perangkat, tetapi juga dengan kesesuaian fungsi, kemudahan penggunaan, kenyamanan, dan kebutuhan nyata orang yang akan menggunakannya.

Uji coba terbatas melibatkan tiga mahasiswa tunanetra Program Studi Pendidikan Khusus UPI angkatan 2026. Keterlibatan mahasiswa tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan karena memberikan kesempatan kepada tim peneliti untuk memperoleh perspektif langsung dari calon pengguna. Pengalaman dan masukan mereka dapat membantu mengidentifikasi aspek yang telah berjalan sesuai rancangan, bagian yang masih memerlukan penyesuaian, serta kebutuhan yang perlu menjadi perhatian dalam penyempurnaan produk.

Pendekatan yang melibatkan pengguna sejak tahap pengembangan merupakan prinsip penting dalam menciptakan teknologi asistif yang relevan. Penyandang disabilitas bukan sekadar penerima manfaat inovasi, melainkan juga pihak yang memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai tantangan aksesibilitas. Dengan melibatkan mereka dalam proses evaluasi, pengembangan teknologi dapat lebih memperhatikan kebutuhan pengguna dan tidak hanya bertumpu pada asumsi perancang.

Dalam kegiatan tersebut, pengujian diarahkan pada tiga aspek utama, yaitu fungsionalitas, usability, dan user experience. Aspek fungsionalitas berkaitan dengan kemampuan perangkat menjalankan fungsi sesuai rancangan. Aspek usabilityberfokus pada kemudahan pengguna dalam memahami dan mengoperasikan perangkat, sedangkan user experiencemencakup pengalaman pengguna ketika berinteraksi dengan robot, termasuk kenyamanan dan persepsi terhadap kebermanfaatannya.

Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam menentukan kualitas suatu teknologi asistif. Perangkat yang berfungsi secara teknis belum tentu mudah digunakan oleh kelompok sasaran. Sebaliknya, perangkat yang mudah dioperasikan tetap perlu dievaluasi dari sisi keamanan, keandalan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, uji fungsionalitas, usability, dan user experience menjadi tahapan penting untuk memperoleh gambaran awal mengenai aspek yang perlu diperbaiki dan dikembangkan lebih lanjut.

Evaluasi juga dirancang dengan mempertimbangkan masukan dari pakar yang memiliki keahlian relevan, khususnya dalam bidang pendidikan khusus dan pengembangan teknologi asistif. Penilaian pakar diarahkan pada aspek fungsionalitas, aksesibilitas, keamanan, kemudahan penggunaan, serta kesesuaian teknologi dengan kebutuhan penyandang disabilitas netra. Perpaduan perspektif pengguna dan pakar diharapkan membantu tim peneliti memperoleh bahan evaluasi yang lebih menyeluruh.

Pengembangan Robot Pemandu SULU memiliki keterkaitan erat dengan prinsip Universal Design, yaitu pendekatan perancangan yang bertujuan agar lingkungan, produk, dan layanan dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang dengan beragam kemampuan. Dalam penelitian BESTARI, prinsip tersebut menjadi bagian dari kerangka pengembangan model kota inklusi ramah disabilitas berkelanjutan di Kota Bandung. Teknologi asistif ditempatkan sebagai salah satu unsur pendukung yang dapat melengkapi upaya penyediaan lingkungan fisik dan layanan publik yang aksesibel.

Meskipun demikian, teknologi robot pemandu tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya solusi bagi persoalan mobilitas tunanetra. Pengembangan dan pemanfaatannya perlu berjalan beriringan dengan penyediaan jalur pedestrian yang aksesibel, fasilitas publik yang ramah disabilitas, informasi yang dapat diakses, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kebutuhan dan hak penyandang disabilitas. Integrasi berbagai unsur tersebut penting untuk membangun lingkungan yang benar-benar mendukung mobilitas dan partisipasi secara mandiri.

Karena pengujian pada 12 Oktober 2026 masih merupakan uji coba terbatas dengan tiga mahasiswa tunanetra, hasilnya diposisikan sebagai masukan awal untuk penyempurnaan Robot Pemandu SULU. Pengujian ini belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan efektivitas produk bagi seluruh penyandang disabilitas netra. Pengujian lanjutan dengan melibatkan pengguna yang lebih beragam serta kondisi lingkungan yang berbeda diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kinerja, keamanan, dan kesesuaian teknologi.

Masukan dari proses pengujian diharapkan dapat membantu tim peneliti menentukan prioritas perbaikan, menyempurnakan fungsi perangkat, dan merancang tahapan evaluasi berikutnya. Proses tersebut mencerminkan pentingnya pengembangan teknologi melalui siklus perancangan, pengujian, evaluasi, dan penyempurnaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, inovasi yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai kebaruan, tetapi juga dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan pengalaman pengguna.

Melalui penelitian BESTARI, UPI berupaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan aksesibilitas melalui riset dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Pengembangan Robot Pemandu SULU memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara peneliti, pengguna penyandang disabilitas, dan pakar dalam proses pengembangan teknologi asistif. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun inovasi yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan mendukung prinsip inklusi.

Ke depan, pengembangan Robot Pemandu SULU diharapkan dapat berlanjut melalui penyempurnaan prototipe dan tahapan pengujian yang lebih luas. Proses tersebut diperlukan untuk mengevaluasi kesesuaian teknologi dengan kebutuhan pengguna serta mengidentifikasi aspek yang perlu ditingkatkan sebelum mempertimbangkan pemanfaatan pada lingkungan yang lebih beragam.

Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan kota inklusif memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Penyediaan infrastruktur yang aksesibel, pengembangan teknologi asistif, penerapan prinsip desain universal, serta keterlibatan penyandang disabilitas dalam perencanaan dan evaluasi perlu berjalan secara saling melengkapi. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan Robot Pemandu SULU diharapkan dapat berkontribusi pada upaya mewujudkan Kota Bandung yang lebih aksesibel, inklusif, dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Melalui rangkaian penelitian dan evaluasi ini, tim BESTARI UPI berupaya memastikan bahwa pengembangan Robot Pemandu SULU terus diarahkan pada kebutuhan pengguna dan prinsip aksesibilitas. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi yang berorientasi pada manfaat sosial, memperluas kesempatan partisipasi penyandang disabilitas, dan mendukung terwujudnya lingkungan perkotaan yang inklusif serta berkelanjutan.

Scroll to Top