
Bandung, 4 September 2026 – Setelah melalui proses perawatan selama kurang lebih satu bulan, tanaman hidroponik yang dikembangkan melalui program Garden-Mind akhirnya dipanen. Sekitar 10 kilogram hasil panen berhasil dikumpulkan dan selanjutnya dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur bagi anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Bandung.
Pemanenan dilaksanakan pada Rabu, 2 September 2026, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Garden-Mind: Intervensi Therapeutic Gardening Berbasis Hidroponik terhadap Anxiety & Stress Disorders pada Anak Binaan LPKA Kelas II Bandung”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.
Program Garden-Mind dikembangkan oleh tim dosen Universitas Pendidikan Indonesia dengan memadukan pendekatan pendidikan khusus, psikologi, dan keterampilan vokasional melalui aktivitas therapeutic gardening berbasis hidroponik. Kegiatan tidak hanya diarahkan untuk memberikan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga menjadikan proses berkebun sebagai pengalaman belajar yang dapat mendukung pengembangan tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran, kerja sama, dan pengelolaan emosi anak binaan.

Kegiatan pemanenan melibatkan enam anak binaan yang sebelumnya telah mengikuti rangkaian pelatihan dan praktik hidroponik. Keenam peserta terlibat langsung dalam proses pemanenan tanaman yang sebelumnya mereka tanam dan rawat bersama tim pengabdian.
Bagi peserta, kegiatan panen menjadi pengalaman penting karena mereka dapat melihat secara langsung hasil dari proses yang telah dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Sebelumnya, peserta telah belajar mengenal sistem hidroponik, melakukan penanaman, menjaga kualitas air, memantau pertumbuhan tanaman, serta melakukan perawatan secara berkala.
Proses tersebut memberikan pengalaman bahwa hasil tidak diperoleh secara instan, tetapi membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan therapeutic gardening yang dikembangkan melalui program Garden-Mind.
Hasil panen sekitar 10 kilogram kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur anak binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Bandung. Pemanfaatan hasil panen tersebut membuat kegiatan tidak berhenti pada proses pelatihan dan produksi tanaman, tetapi memberikan manfaat nyata bagi lingkungan tempat anak binaan menjalani proses pembinaan.
Kepala Subseksi Pendidikan dan Kemasyarakatan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Bandung, Adi Prayitno, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Terima kasih atas kegiatan yang telah dilaksanakan untuk anak binaan kami. Mereka mendapatkan pengetahuan baru dan setidaknya ada intervensi secara psikologis bagi mereka,” ujar Adi Prayitno.
Menurutnya, kegiatan seperti Garden-Mind memberikan pengalaman baru bagi anak binaan sekaligus dapat menjadi bagian dari proses pembinaan. Ia berharap keterampilan yang telah diperoleh peserta dapat terus dikembangkan setelah mereka menyelesaikan masa pembinaan dan kembali ke masyarakat.
“Kami berharap mereka bisa mengembangkan keterampilan ini nanti setelah keluar dari lembaga ini. Harapannya nanti ada keberlanjutan dari kegiatan ini,” tambahnya.
Harapan tersebut sejalan dengan tujuan Garden-Mind yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga pada kebermanfaatan keterampilan yang dapat dibawa peserta dalam kehidupan mereka selanjutnya. Pengalaman menanam, merawat, hingga memanen diharapkan dapat menjadi salah satu bekal keterampilan produktif bagi anak binaan.
Ketua tim pengabdian, Hendriano Meggy, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan pemanenan merupakan salah satu bagian penting dari keseluruhan proses Garden-Mind.
“Panen menjadi pengalaman penting bagi anak binaan karena mereka dapat melihat hasil dari apa yang telah mereka tanam dan rawat selama kurang lebih satu bulan. Ada proses menunggu, merawat, mengamati, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut yang kami harapkan tidak berhenti pada kegiatan hidroponik, tetapi dapat mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Menurut Hendriano, therapeutic gardening memberikan ruang bagi anak binaan untuk melakukan aktivitas produktif dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan. Interaksi dengan tanaman memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar mengamati, merawat, menyelesaikan tugas, bekerja sama, serta memahami bahwa setiap proses membutuhkan waktu dan konsistensi.

“Ketika hasil panen kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur anak binaan, peserta dapat melihat bahwa keterampilan yang mereka pelajari memberikan manfaat nyata. Bagi kami, ini bukan hanya tentang berapa kilogram yang berhasil dipanen, tetapi tentang bagaimana proses tersebut memberikan pengalaman, keterampilan, dan rasa bahwa mereka mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tambahnya.
Program Garden-Mind dilaksanakan oleh tim yang diketuai Hendriano Meggy, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Pendidikan Indonesia, dengan anggota Nita Nitiya Intan Tanbrin, S.Pd., M.Pd. dari Program Studi Pendidikan Khusus serta Selfiyani Lestari, S.Psi., M.Psi. dari Program Studi Psikologi. Kegiatan turut didukung oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus, yaitu Kayla Athaya Kaerunnisa, Intan Nuurul Azkiya, dan Widya Annisa Sari.
Keterlibatan enam peserta dalam kegiatan pemanenan menjadi penanda kesinambungan proses pembelajaran yang telah mereka jalani. Peserta tidak hanya mengikuti kegiatan pada saat pelatihan, tetapi terlibat dalam rangkaian proses mulai dari penanaman, perawatan, pemantauan, hingga pemanenan.
Bagi tim pengabdian, hasil panen sekitar 10 kilogram menjadi salah satu capaian nyata dari program. Namun, keberhasilan Garden-Mind tidak semata-mata diukur dari jumlah tanaman yang berhasil dipanen. Lebih jauh, program ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna, keterampilan produktif, serta ruang aktivitas yang mendukung proses pembinaan anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Bandung.
Ke depan, tim Garden-Mind berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan bersama Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Bandung. Keberlanjutan program diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada anak binaan untuk terus mengembangkan keterampilan hidroponik maupun keterampilan produktif lainnya yang dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat.
Melalui Garden-Mind, Universitas Pendidikan Indonesia berupaya menghadirkan kegiatan pengabdian yang tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menciptakan pengalaman yang memiliki makna bagi anak binaan. Dari tanaman yang ditanam dan dirawat selama satu bulan hingga sekitar 10 kilogram hasil panen yang kembali dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur, setiap tahapan menjadi bagian dari proses untuk menumbuhkan keterampilan, tanggung jawab, dan harapan baru bagi anak binaan.
Kegiatan ini didukung oleh Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.

