ICSAR 2026 Hadirkan Tiga Keynote Speaker Internasional pada Sesi 1, Bahas Penguatan Intervensi dan Layanan Pendidikan Khusus

Bandung – The 16th International Conference on Special Education in the Southeast Asia Region (ICSAR 2026) menghadirkan sesi keynote speaker sebagai salah satu agenda utama konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), pada Kamis, 8 Oktober 2026. Bertempat di Gedung Baru Sekolah Pascasarjana UPI, Bandung, sesi pertama keynote speaker berlangsung pukul 09.00–10.20 WIB dan mempertemukan akademisi serta praktisi dari Indonesia, Malaysia, dan Jepang untuk berbagi perspektif mengenai pengembangan pendidikan khusus berdasarkan keilmuan, asesmen, dan praktik profesional.

ICSAR 2026 mengusung tema “Advancing Inclusive and Resilient Special Education Ecosystems: Research, Innovation, and Cross-Cultural Collaboration in the Asia Region”. Tema ini menegaskan pentingnya membangun ekosistem pendidikan khusus dan pendidikan inklusif yang tangguh melalui penelitian, inovasi, penguatan praktik berbasis bukti, serta kolaborasi lintas institusi dan budaya. Penyelenggaraan konferensi menjadi ruang bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk bertukar pengetahuan serta mengembangkan pendekatan yang semakin responsif terhadap keragaman kebutuhan peserta didik.

Sesi pertama menghadirkan tiga pembicara utama, yaitu Prof. Dr. Endang Rochyadi, M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia; Dr. Kama Bin Shaffeei dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia; serta Prof. Ryoichiro Iwanaga dari Nagasaki University, Jepang. Ketiganya membawa latar belakang keilmuan dan pengalaman profesional yang beragam, sehingga memperkaya pembahasan mengenai intervensi pendidikan khusus, pengembangan kompetensi dan layanan pendidikan, serta dukungan bagi anak dengan kebutuhan khusus.

Keynote pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Endang Rochyadi, M.Pd., profesor bidang Pendidikan Khusus bagi anak dengan hambatan intelektual di UPI. Dalam kiprah akademiknya, Prof. Endang dikenal melalui perhatian terhadap penguatan intervensi pendidikan khusus yang bertumpu pada asesmen, pengembangan Program Pembelajaran Individual (PPI), dan keterlibatan keluarga sebagai mitra penting dalam mendukung perkembangan anak.

Pembahasan mengenai intervensi menjadi relevan karena praktik pendidikan khusus tidak cukup hanya berfokus pada kegiatan mengajar atau mengulang materi yang belum dikuasai peserta didik. Intervensi perlu berangkat dari pemahaman yang menyeluruh terhadap kebutuhan anak, faktor yang menghambat proses belajar, serta bentuk bantuan yang diperlukan agar anak dapat belajar dan berkembang secara optimal. Dengan demikian, asesmen memiliki peran mendasar untuk menentukan arah tindakan profesional yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan individual peserta didik.

Perspektif tersebut menegaskan bahwa intervensi dan pembelajaran memiliki keterkaitan, tetapi tidak sepenuhnya dapat disamakan. Pembelajaran pada dasarnya bertujuan membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan, sedangkan intervensi dalam pendidikan khusus juga diarahkan untuk mengenali dan menangani faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar atau perkembangan. Pendekatan ini menuntut pendidik untuk melihat peserta didik secara individual, merumuskan kebutuhan dukungan berdasarkan asesmen, dan menyusun program yang sesuai dengan kondisi serta potensi anak.

Penguatan intervensi berbasis asesmen juga menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Keterlibatan keluarga dapat membantu pendidik memahami kebutuhan anak dalam berbagai lingkungan, menjaga kesinambungan dukungan antara rumah dan sekolah, serta mengevaluasi perkembangan keterampilan yang menjadi sasaran program. Pendekatan kolaboratif seperti ini diharapkan dapat memperkuat kualitas layanan pendidikan khusus sekaligus mendorong pelaksanaan program pembelajaran yang lebih terarah dan bermakna.

Keynote kedua disampaikan oleh Dr. Kama Bin Shaffeei dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia. Ia memiliki perhatian akademik dan profesional pada program transisi karier, penyaringan keterampilan vokasional, praktik pendidikan inklusif, serta kesiapan dan kompetensi guru pendidikan khusus. Salah satu bidang yang dikembangkannya adalah Vocational Skills Screening Instrument (VSSI), yaitu instrumen penyaringan keterampilan vokasional yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan peserta didik untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

Perspektif mengenai transisi dan keterampilan vokasional menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan khusus yang berorientasi pada keberlanjutan kehidupan peserta didik. Pendidikan tidak hanya bertujuan mendukung keberhasilan belajar di sekolah, tetapi juga perlu membantu peserta didik mengembangkan kemandirian, keterampilan fungsional, kesiapan bekerja, dan kemampuan berpartisipasi di masyarakat. Oleh karena itu, identifikasi potensi serta kebutuhan dukungan perlu dilakukan secara tepat agar program pendidikan dan pelatihan yang diberikan sesuai dengan kemampuan dan aspirasi peserta didik.

Pengembangan keterampilan vokasional juga memerlukan hubungan yang kuat antara asesmen, pembelajaran, pengalaman praktik, dan layanan transisi. Informasi mengenai kemampuan serta minat peserta didik dapat menjadi dasar dalam merancang program yang relevan, sedangkan kolaborasi dengan keluarga, sekolah, dan lingkungan kerja dapat memperluas kesempatan peserta didik untuk menerapkan keterampilannya dalam situasi nyata. Dalam konteks pendidikan inklusif, pendekatan tersebut turut mendorong tersedianya dukungan yang lebih berkesinambungan untuk membantu peserta didik mencapai partisipasi sosial dan kemandirian yang lebih baik.

Keynote ketiga menghadirkan Prof. Ryoichiro Iwanaga dari Nagasaki University, Jepang, yang memiliki keahlian dalam terapi integrasi sensorik, pemrosesan sensorik pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan disabilitas perkembangan lainnya, serta koordinasi motorik dan pemrosesan somatosensorik. Latar belakangnya sebagai terapis okupasi dan peneliti memberikan perspektif mengenai pentingnya memahami proses sensorik dan respons anak ketika merancang dukungan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.

Kajian integrasi sensorik dan pemrosesan sensorik memiliki relevansi dalam layanan bagi anak dengan kebutuhan khusus, terutama ketika karakteristik pemrosesan informasi sensorik berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, partisipasi, koordinasi gerak, dan keterlibatan dalam pembelajaran. Pemahaman terhadap karakteristik individual anak dapat membantu profesional menentukan bentuk dukungan yang sesuai, dengan mempertimbangkan kebutuhan fungsional serta tujuan intervensi yang ingin dicapai.

Pendekatan berbasis bukti menjadi penting dalam pengembangan layanan tersebut. Pengetahuan ilmiah, hasil asesmen, dan evaluasi terhadap respons anak dapat digunakan untuk menilai kesesuaian intervensi serta menentukan tindak lanjut yang diperlukan. Kolaborasi antara pendidik, terapis, keluarga, dan tenaga profesional lainnya juga dapat mendukung layanan yang lebih terpadu, sehingga kebutuhan anak tidak ditangani secara terpisah, melainkan melalui pemahaman yang menyeluruh terhadap perkembangan dan partisipasinya.

Kehadiran ketiga keynote speaker memperlihatkan luasnya cakupan pendidikan khusus, mulai dari intervensi berbasis asesmen dan pembelajaran individual, pengembangan keterampilan vokasional serta transisi menuju kehidupan dewasa, hingga pemahaman sensorik dan dukungan terhadap perkembangan anak. Ragam perspektif tersebut memperkaya diskusi akademik dan menunjukkan pentingnya menghubungkan kajian pendidikan dengan bidang keilmuan lain untuk menghasilkan layanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

Setelah penyampaian materi, sesi pertama dilanjutkan dengan tanya jawab yang berlangsung pada pukul 10.00–10.20 WIB. Sesi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperdalam pemahaman terhadap materi yang disampaikan, mengklarifikasi persoalan akademik, serta menghubungkan perspektif para pembicara dengan tantangan pelaksanaan pendidikan khusus dan pendidikan inklusif di berbagai konteks. Interaksi antara pembicara dan peserta menjadi bagian penting dalam membangun pertukaran pengetahuan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga relevan bagi pengembangan praktik profesional.

Pelaksanaan sesi keynote pertama merupakan bagian dari rangkaian ICSAR 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan UPI, bekerja sama dengan INTI International University, Malaysia. Konferensi ini menghadirkan enam keynote speaker dan enam invited speaker dari lima negara serta melibatkan jejaring sekitar 29 perguruan tinggi dan institusi. Setelah sesi keynote pertama, konferensi dilanjutkan dengan sesi keynote berikutnya, pemaparan invited speaker, serta presentasi makalah paralel yang mencakup beragam tema pendidikan khusus dan inklusif.

Melalui forum internasional ini, UPI memperkuat perannya sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengembangan kolaborasi akademik di bidang pendidikan khusus. Pembahasan mengenai intervensi, asesmen, keterampilan vokasional, transisi, serta dukungan sensorik diharapkan dapat memperluas perspektif peserta dalam mengembangkan penelitian dan praktik pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan individual, berorientasi pada partisipasi, dan didukung oleh bukti ilmiah.

Program Studi Pendidikan Khusus FIP UPI menyampaikan apresiasi kepada para keynote speaker, mitra penyelenggara, panitia, serta seluruh peserta yang berkontribusi dalam sesi pertama ICSAR 2026. Pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara ini diharapkan menjadi landasan bagi penguatan jejaring penelitian, peningkatan kompetensi profesional, dan pengembangan ekosistem pendidikan khusus yang inklusif serta tangguh di kawasan Asia.

Scroll to Top