Medan — Program Studi Pendidikan Masyarakat (Penmas) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) turut memperkuat diskursus nasional mengenai masa depan Pendidikan Masyarakat melalui Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat Tahun 2026 yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP Universitas Negeri Medan (UNIMED).

Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rakernas HAPPENMASI Ke-4 dan Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat Tahun 2026 yang berlangsung pada 23–25 September 2026. Tema yang diangkat adalah “Reaktualisasi Pendidikan Keluarga Berbasis Pemberdayaan di Era Disrupsi Digital dan Kearifan Lokal: Refleksi Penmas Reborn.”

Ketua Prodi Penmas: Pendidikan Keluarga Perlu Direaktualisasi

Ketua Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, Dr. Yanti Shantini, M.Pd., mengatakan bahwa tema seminar memiliki relevansi kuat dengan tantangan Pendidikan Masyarakat saat ini.

“Reaktualisasi Pendidikan Masyarakat perlu dilakukan dengan tetap mempertahankan prinsip pemberdayaan. Teknologi digital membuka ruang yang luas untuk memperluas akses pembelajaran, tetapi pengembangannya tetap perlu mempertimbangkan konteks keluarga, masyarakat, dan kearifan lokal sebagai bagian penting dari kehidupan warga belajar.”

Menurutnya, transformasi digital perlu ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kapasitas masyarakat, bukan sekadar perubahan media pembelajaran.

Ketua Umum HAPPENMASI: Penmas Harus Terus Direfleksikan

Ketua Umum HAPPENMASI, Prof. Dr. Uyu Wahyudin, M.Pd., menilai tema “Penmas Reborn” memberikan ruang untuk melakukan refleksi terhadap posisi Pendidikan Masyarakat di tengah perubahan sosial dan teknologi.

“Penmas Reborn dapat dimaknai sebagai ajakan untuk melihat kembali kekuatan dan relevansi Pendidikan Masyarakat dalam konteks perubahan zaman. Pendidikan Masyarakat harus mampu membaca perubahan, tetapi tetap menjaga jati dirinya sebagai pendidikan yang berorientasi pada pemberdayaan dan kebutuhan masyarakat.”

Menurutnya, penguatan pendidikan keluarga juga perlu ditempatkan dalam kerangka pemberdayaan karena keluarga merupakan salah satu lingkungan pendidikan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sekprodi Penmas: Digitalisasi Harus Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Sekretaris Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, Dr. Dadang Yunus L., M.Pd., menilai seminar nasional menjadi ruang penting untuk mendiskusikan kembali posisi Pendidikan Masyarakat dalam menghadapi era disrupsi digital.

“Pendidikan Masyarakat harus adaptif terhadap perubahan, tetapi adaptasi tersebut tetap harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. Digitalisasi bukan sekadar memindahkan proses pembelajaran ke ruang digital, melainkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat kapasitas individu, keluarga, dan komunitas.”

Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal tetap penting agar inovasi Pendidikan Masyarakat memiliki akar sosial dan budaya yang kuat.

Sekjen HAPPENMASI: Teknologi dan Kearifan Lokal Perlu Dipertemukan

Sekretaris Jenderal HAPPENMASI, Dr. Asep Saepudin, M.Pd., menekankan bahwa tantangan Pendidikan Masyarakat di era digital bukan sekadar bagaimana memanfaatkan teknologi, tetapi bagaimana memastikan teknologi memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Disrupsi digital harus kita respons dengan inovasi, tetapi inovasi tersebut tetap harus kontekstual. Teknologi dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat dipadukan untuk memperkuat proses pendidikan, pemberdayaan, dan pengembangan kapasitas masyarakat.”

Pandangan tersebut sejalan dengan posisi HAPPENMASI sebagai wadah yang mempertemukan akademisi dan program studi Pendidikan Masyarakat dari berbagai perguruan tinggi untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi.

Hadirkan Keynote Speaker Nasional

Seminar Nasional Pendidikan Masyarakat dijadwalkan menghadirkan Direktur Belmawa, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., sebagai keynote speaker. Agenda seminar berlangsung dalam rangkaian kegiatan HAPPENMASI pada 25 September 2026.

Kehadiran berbagai unsur akademisi Pendidikan Masyarakat dalam forum tersebut memperluas ruang dialog mengenai pendidikan keluarga, pemberdayaan masyarakat, transformasi digital, dan kearifan lokal.

“Penmas Reborn” sebagai Agenda Reflektif

Tema “Reaktualisasi Pendidikan Keluarga Berbasis Pemberdayaan di Era Disrupsi Digital dan Kearifan Lokal: Refleksi Penmas Reborn” pada akhirnya menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana Pendidikan Masyarakat dapat terus relevan di tengah perubahan.

Bagi Prodi Penmas FIP UPI, forum tersebut memperkuat komitmen untuk terus mengembangkan Pendidikan Masyarakat yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi tetap berakar pada kebutuhan masyarakat dan kekuatan sosial-budaya lokal.

Kegiatan ini juga memperkuat kontribusi Pendidikan Masyarakat terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui pengembangan pengetahuan, jejaring akademik, dan kolaborasi antarlembaga Pendidikan Masyarakat di Indonesia. (Korespondensi : Dadang Yunus Lutfiansyah)

Scroll to Top