Tim BESTARI SAINTEK UPI Rumuskan Model Kota Inklusi Ramah Disabilitas Berkelanjutan di Kota Bandung

Bandung, 20 Juli 2026 — Tim pelaksana Program BESTARI SAINTEK Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Perencanaan dan Pengembangan Model Kota Inklusi Ramah Disabilitas di Kota Bandung, Senin, 20 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Program Studi Pendidikan Khusus, Gedung FIP UPI Lantai 2, tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan penelitian dengan judul “Implementasi Model Kota Inklusi Ramah Disabilitas Berkelanjutan Berbasis Universal Design Principles dan Kearifan Lokal di Kota Bandung.”

Kegiatan FGD dipimpin oleh Ketua Tim Pelaksana Program BESTARI SAINTEK, Prof. Dr. Achmad Hufad, M.Ed., dengan menghadirkan Suhendar, M.Pd., GPK pada ULD Dinas Pendidikan Kota Bandung sekaligus Koordinator Pengembangan Program dan Evaluasi Kinerja GPK. Kegiatan tersebut diikuti oleh tim pelaksana Program BESTARI SAINTEK dan pihak terkait. FGD menjadi salah satu tahapan penting dalam proses penelitian untuk memperoleh masukan mengenai perencanaan dan pengembangan model, mengidentifikasi kebutuhan faktual di lapangan, serta memastikan model yang dikembangkan sesuai dengan konteks penyelenggaraan layanan inklusif di Kota Bandung.

Dalam kegiatan tersebut dibahas kondisi Kota Bandung sebagai kota kreatif, kota pendidikan, dan salah satu Smart City di Indonesia yang masih menghadapi tantangan dalam memastikan perkembangan kota dapat dinikmati secara inklusif oleh seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas. Tim peneliti mengidentifikasi adanya kesenjangan antara regulasi dan implementasi, kesenjangan antara kebijakan dengan kebutuhan nyata pengguna, serta belum optimalnya integrasi budaya lokal dalam pengembangan model sosial dan tata kelola kota inklusif.

FGD juga membahas koridor pedestrian Jalan Pajajaran–Stasiun Bandung sebagai salah satu lokasi pilot program. Koridor tersebut diposisikan sebagai ruang implementasi dan pengujian model karena memiliki fungsi strategis sebagai jalur mobilitas perkotaan sekaligus menunjukkan kebutuhan nyata terhadap peningkatan aksesibilitas pedestrian.

Berdasarkan hasil survei awal yang dipaparkan dalam FGD, masih ditemukan sejumlah persoalan aksesibilitas pada koridor tersebut. Persoalan tersebut antara lain guiding block yang terputus atau tidak konsisten, penempatan bollard yang berpotensi menghalangi jalur pedestrian, trotoar yang sempit dan pada beberapa titik terhalang, halte yang belum sepenuhnya memiliki fasilitas fisik yang inklusif, jembatan penyeberangan yang belum memenuhi kebutuhan aksesibilitas seluruh pengguna, jalur penyeberangan yang menghadapi kepadatan lalu lintas, serta marka zebra cross yang belum konsisten pada beberapa titik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa aksesibilitas tidak dapat diselesaikan hanya melalui penambahan fasilitas secara parsial. Penataan pedestrian perlu dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan keterhubungan, kontinuitas, keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan penggunaan bagi seluruh masyarakat.

Dalam pengembangan model, tim peneliti mengintegrasikan Universal Design Principles dengan kearifan lokal Sunda yang diarahkan pada pembentukan konsep Bandung Inclusive Masagi City. Universal Design Principles digunakan sebagai landasan untuk menghasilkan ruang yang dapat digunakan secara setara, fleksibel, sederhana, mudah dipahami, aman, dan memberikan ruang yang memadai bagi berbagai kelompok pengguna.

Sementara itu, nilai kearifan lokal Sunda diterjemahkan melalui nilai Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, Silih Wawangi, Someah Hade ka Semah, dan Gotong Royong. Integrasi kedua fondasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan model kota yang tidak hanya aksesibel secara fisik, tetapi juga humanis, ramah, partisipatif, dan berkelanjutan.

Program penelitian ini menggunakan pendekatan Urban Living Lab dengan menjadikan kondisi nyata di lapangan sebagai ruang untuk melakukan pengembangan, pengujian, evaluasi, dan penyempurnaan model. Pendekatan tersebut menekankan real-world setting, co-creation, kolaborasi multipihak, proses iterasi, dan eksperimen. Dalam prosesnya, penyandang disabilitas ditempatkan sebagai pihak yang terlibat secara aktif dalam identifikasi kebutuhan, pengembangan, pengujian, dan evaluasi model.

Kolaborasi juga dikembangkan melalui pendekatan Quadruple Helix yang melibatkan unsur akademisi, pemerintah, komunitas disabilitas, dan unsur budaya. Masing-masing pihak diharapkan memberikan kontribusi sesuai dengan kompetensinya, mulai dari pengembangan model dan instrumen evaluasi, penyelarasan kebijakan, validasi kebutuhan faktual, hingga penguatan nilai kearifan lokal dalam pengembangan kota inklusif.

Selain aspek infrastruktur, FGD turut membahas pengembangan teknologi asistif sebagai bagian dari ekosistem aksesibilitas. Beberapa inovasi yang dipaparkan meliputi GuidePath Robot sebagai robot pemandu bagi tunanetra, alat akses kursi roda untuk mendukung mobilitas pada area yang memiliki hambatan, serta signage Braille berbahan aluminium untuk menyediakan informasi publik yang lebih aksesibel.

Salah satu fokus inovasi teknologi adalah pengembangan GuidePath Robot yang dirancang untuk mengikuti guiding block, mendeteksi pedestrian dan hambatan, serta memberikan dukungan navigasi bagi pengguna tunanetra. Dalam pengembangannya, teknologi asistif ditempatkan sebagai teknologi pendukung untuk memperkuat mobilitas dan kemandirian pengguna, bukan sebagai pengganti infrastruktur pedestrian yang aman dan aksesibel maupun pendampingan manusia. Pembahasan FGD juga menegaskan bahwa pengembangan kota inklusif perlu didasarkan pada kondisi dan kebutuhan nyata pengguna, bukan hanya pada pemenuhan standar teknis. Karena itu, penyandang disabilitas perlu dilibatkan secara aktif dalam seluruh proses, mulai dari identifikasi kebutuhan, pengembangan solusi, pengujian, hingga evaluasi model. Pengembangan pedestrian juga perlu mempertimbangkan kesinambungan perjalanan pengguna secara utuh karena keberadaan guiding block, ramp, zebra cross, halte, maupun fasilitas lainnya tidak akan efektif apabila berdiri sendiri dan tidak saling terhubung.

Ke depan, penelitian akan diarahkan pada penyempurnaan baseline kondisi aksesibilitas di lokasi pilot, pendalaman kebutuhan pengguna khususnya penyandang disabilitas, penyempurnaan rancangan pedestrian berdasarkan prinsip Universal Design dan kondisi faktual di lapangan, serta pengembangan dan pengujian prototipe teknologi asistif. Tim juga akan memperkuat pelibatan pengguna dalam proses uji coba dan evaluasi, meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan mitra terkait, menyusun panduan teknis desain trotoar atau pedestrian inklusif yang kontekstual dengan Kota Bandung, serta menyusun rencana penerapan dan keberlanjutan model. Program penelitian tersebut dirancang melalui tahapan analisis kondisi awal, penyusunan DED, pengembangan purwarupa, uji pengguna, iterasi dan perbaikan, pengembangan produk siap manfaat, penyusunan rencana penerapan, serta diseminasi. Setiap tahapan diarahkan untuk menghasilkan capaian yang terukur, tervalidasi, kolaboratif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Penelitian “Implementasi Model Kota Inklusi Ramah Disabilitas Berkelanjutan Berbasis Universal Design Principles dan Kearifan Lokal di Kota Bandung” merupakan bagian dari Program BESTARI SAINTEK Universitas Pendidikan Indonesia. Penelitian ini dikembangkan untuk menghasilkan model dan panduan teknis kota inklusi, pengembangan teknologi asistif, peningkatan kapasitas mitra, serta rekomendasi yang dapat mendukung penguatan kebijakan dan layanan pendidikan inklusif. Kota Bandung ditempatkan sebagai living lab untuk mengembangkan solusi berbasis sains dan teknologi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tim penelitian menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, atas dukungan pendanaan melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI SAINTEK) Tahun 2026. Dukungan pendanaan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan penelitian, pengembangan model, pengujian inovasi, serta kolaborasi multipihak dalam upaya mewujudkan Kota Bandung yang semakin inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Pendidikan Indonesia, Dinas Pendidikan Kota Bandung, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, komunitas penyandang disabilitas, praktisi, serta seluruh mitra dan pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun lingkungan perkotaan yang aman, aksesibel, partisipatif, humanis, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

Scroll to Top