Bandung, Senin 12 Mei 2026 -Tim peneliti dari Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), melaksanakan kunjungan riset ke Griya Seni Popo Iskandar (GSPI). Kunjungan ini merupakan bagian dari proyek penelitian bertajuk pada Pengembangan Metadata untuk Meningkatkan Akses Informasi Warisan Budaya di Institusi GLAM yang didanai melalui skema Riset Afirmasi Dosen.
Tim riset ini diketuai oleh Yayu Wulandari, S.S.I., M.I.Kom, beranggotakan Hj. Susanti Agustina, M.I.Kom., Ph.D, serta melibatkan mahasiswa Fitria Dewi dan Millati Azka. Dalam kunjungan tersebut, tim melakukan wawancara mendalam dengan narasumber utama, Bapak Anton Susanto, yang merupakan kurator GSPI sekaligus cucu dari almarhum Popo Iskandar. Dalam diskusi tersebut, Pak Anton Susanto, S.Sn. mengungkapkan tantangan besar dalam mengelola ribuan karya Popo Iskandar yang tersebar di tangan kolektor sejak tahun 1940-an. “Karya seni yang bagus sering kali sulit diakses publik karena bersifat privat. Tanpa metadata yang kuat dan terdigitalisasi, kita berisiko kehilangan konteks sejarah dan makna dari objek budaya tersebut,” ujar Pak Anton.
Selama ini, GSPI telah melakukan dokumentasi secara konvensional melalui penerbitan buku katalog untuk “menitipkan data” kepada publik. Riset UPI ini bertujuan untuk meningkatkan upaya tersebut dengan membangun platform digital yang interoperabel, yang memungkinkan metadata fisik (seperti ukuran, teknik pisau palet, dan medium) serta data intelektual seniman dapat diakses secara terbuka.
Penelitian yang menggunakan metode Design and Development (DnD) ini ditargetkan menghasilkan sistem penyimpanan metadata digital yang tervalidasi oleh ahli dan praktisi seni. Selain digitalisasi karya visual, tim peneliti juga memfokuskan pada pengarsipan ratusan esai pemikiran Popo Iskandar yang dimuat di media massa antara tahun 1957 hingga 1990-an. “Kami ingin membantu institusi GLAM seperti GSPI agar memiliki infrastruktur informasi yang kokoh,” tutur Yayu Wulandari. “Langkah ini sejalan dengan target SDGs nomor 11.4 dalam melindungi warisan budaya dunia melalui inovasi teknologi digital”. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi prototipe bagi museum dan galeri lain di Indonesia dalam mengelola metadata secara profesional, guna mencegah hilangnya memori kolektif bangsa akibat keterbatasan akses informasi.

