Bandung – Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyelenggarakan kegiatan Penguatan Pemahaman Dosen dalam Evaluasi dan Pengembangan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB di Ruang Rapat Tembaga dan secara daring melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh dosen di lingkungan PEP Bandung.

Kegiatan ini diselenggarakan berdasarkan Nota Dinas Direktur PEP Bandung, Imelda Eva Roturena Hutabarat, Nomor 63/DL.10/BPB/2026 tertanggal 27 Oktober 2026, dalam rangka persiapan evaluasi kurikulum pendidikan vokasi di lingkungan PEP Bandung. Kegiatan ini bertujuan agar seluruh dosen memahami proses evaluasi dan pengembangan Kurikulum OBE sehingga kurikulum tersebut dapat diimplementasikan pada tahun akademik selanjutnya.
Dr. Mario Emilzoli, M.Pd., dosen Program Studi S2 dan S3 Pengembangan Kurikulum, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), hadir sebagai narasumber dengan paparan bertajuk “Evaluasi dan Pengembangan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education”. Paparan tersebut mengacu pada Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (Perpres Nomor 8 Tahun 2012), dan instrumen akreditasi LAM, serta disusun dalam enam bagian: fondasi OBE, regulasi dan konteks vokasi, pengembangan kurikulum, pembelajaran transformatif, evaluasi kurikulum, serta studi kasus dan sintesis.
Dalam paparannya, Dr. Mario menegaskan bahwa kurikulum OBE dirancang mundur dari kemampuan yang harus dimiliki lulusan, bukan dari daftar materi yang ingin diajarkan. Setiap profil lulusan merupakan janji yang harus dibuktikan melalui jejak yang utuh, mulai dari CPL pendukung, mata kuliah yang membentuknya, asesmen yang membuktikannya, hingga data tracer study. Ia juga menekankan pentingnya constructive alignment, yaitu keselarasan antara CPMK, aktivitas belajar, dan asesmen, serta perumusan CPL lulusan D3 pada kedalaman KKNI jenjang 5 yang dipetakan ke SKKNI dan skema sertifikasi kompetensi.
Peserta juga diajak menelusuri sembilan tahap pengembangan kurikulum dalam tiga fase, yaitu merumuskan capaian, menyusun struktur, dan merancang pembelajaran, mulai dari analisis kebutuhan dan profil lulusan hingga evaluasi kurikulum dan perbaikan berkelanjutan. Dalam pendidikan vokasi, bukti kompetensi dikumpulkan melalui asesmen otentik, seperti uji unjuk kerja, proyek, portofolio magang, dan uji kompetensi, dengan melibatkan penilai dari industri. Selain itu, Dr. Mario memperkenalkan CPMK transformatif melalui siklus TRAI (Trigger, Reflection, Action, Integration) dan rubrik reflektif empat level untuk mengukur perubahan sikap, misalnya pada mata kuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan.
Pada bagian evaluasi, ia menjelaskan tiga lapis waktu evaluasi kurikulum, yaitu tiap semester, tiap tahun, dan tiap empat hingga lima tahun, serta penggunaan Model CIPP (Context, Input, Process, Product) dengan sumber data langsung dan tidak langsung. Ketercapaian CPL dihitung dari skor CPMK berbobot, bukan dari nilai akhir mata kuliah, lalu temuannya ditindaklanjuti melalui siklus PPEPP pada level mata kuliah, kelompok mata kuliah, atau kurikulum. Melalui studi kasus ilustratif CPL perencanaan tambang dan telaah Kurikulum 2023 Prodi D3 Teknologi Geologi, peserta melihat bagaimana nilai mata kuliah yang tinggi dapat menutupi CPL yang belum tercapai, serta bagaimana profil lulusan dan CPL dapat disederhanakan agar lebih terukur.
“Kurikulum yang baik tidak selesai ketika disahkan; mutunya diuji setiap kali lulusan bekerja,” ujar Dr. Mario. Ia juga mengingatkan bahwa dokumen kurikulum OBE merupakan syarat perlu, sedangkan peringkat unggul dalam akreditasi menuntut bukti bahwa kurikulum benar-benar berjalan, diukur, dan diperbaiki. Karena itu, dosen memegang peran penting dalam menyiapkan portofolio dan laporan evaluasi mata kuliah pada setiap semester.
Melalui kegiatan ini, PEP Bandung berupaya memperkuat kesiapan dosen dalam mengevaluasi dan mengembangkan kurikulum berbasis OBE, sehingga kurikulum pendidikan vokasi yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan industri energi dan pertambangan serta siap diimplementasikan pada tahun akademik selanjutnya.
