
Lembang, Kabupaten Bandung Barat — Yayasan Ash-Shoddiq menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Jabar Beraksisebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan kapasitas pendidik dalam menjalankan layanan pendidikan di lingkungan yayasan. Kegiatan tersebut menghadirkan Penilik Kecamatan Lembang, Neneng, M.Pd. dan Eri Endrianti, M.Pd. sebagai narasumber.
Kegiatan diikuti oleh para pendidik di lingkungan Yayasan Ash-Shoddiq, yang terdiri atas guru Kelompok Bermain (Kober) Ash-Shoddiq serta tutor Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Kehadiran para pendidik dari berbagai layanan pendidikan tersebut menunjukkan pentingnya kesamaan pemahaman dalam penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik dan masyarakat.
Kegiatan juga dihadiri langsung oleh Ketua PKBM Ash-Shoddiq sekaligus mewakili Program Studi Pendidikan Masyarakat FIP UPI sebagai lembaga pembina, Dr. Dadang Yunus Lutfiansyah, M.Pd. Kehadiran tersebut mempertegas komitmen untuk membangun keterhubungan antara praktik penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan masyarakat dengan penguatan kapasitas kelembagaan melalui pendampingan akademik.
Penilik Kecamatan Lembang Dorong Penguatan Pemahaman Pendidik
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Ibu Neneng, M.Pd. dan Ibu Eri Endrianti, M.Pd. menyampaikan materi mengenai Jabar Beraksi kepada para pendidik di lingkungan Yayasan Ash-Shoddiq. Sosialisasi menjadi ruang bagi guru dan tutor untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai substansi program sekaligus mendiskusikan implementasinya dalam konteks layanan pendidikan yang mereka selenggarakan.
Kehadiran Penilik sebagai unsur pembina dan pengawas pendidikan nonformal juga memberikan ruang dialog bagi para pendidik untuk menyampaikan berbagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan program pendidikan di lapangan.
Forum tersebut tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian informasi, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara Penilik dengan guru dan tutor. Dialog semacam ini penting karena implementasi kebijakan dan program pendidikan membutuhkan pemahaman yang sama antara pengelola, pendidik, dan unsur pembina.
Memperkuat Sinergi PKBM dan Lembaga Pembina
Ketua PKBM Ash-Shoddiq sekaligus perwakilan Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UPI sebagai lembaga pembina, Dr. Dadang Yunus Lutfiansyah, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan masyarakat.
Menurutnya, pendidik merupakan unsur utama dalam menentukan kualitas proses pembelajaran. Karena itu, peningkatan kompetensi tidak dapat berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi perlu dilanjutkan melalui pendampingan dan penguatan kapasitas secara berkelanjutan.
“Pendidikan masyarakat membutuhkan pendidik yang tidak hanya memahami tugas pembelajaran, tetapi juga mampu membaca kebutuhan peserta didik dan dinamika masyarakat. Karena itu, kegiatan sosialisasi dan penguatan kapasitas seperti ini menjadi penting untuk memastikan program pendidikan benar-benar dapat dilaksanakan secara relevan dan berkualitas,” ujar Dr. Dadang.
Ia menambahkan, keberadaan Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UPI sebagai lembaga pembina dapat menjadi jembatan antara pengembangan keilmuan di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata penyelenggara pendidikan masyarakat.
“Sinergi antara PKBM, pendidik, Penilik, dan perguruan tinggi merupakan kekuatan yang perlu terus dikembangkan. Perguruan tinggi dapat memberikan perspektif akademik, sementara satuan pendidikan memberikan pengalaman dan persoalan nyata di lapangan. Pertemuan keduanya dapat menjadi dasar untuk membangun praktik pendidikan masyarakat yang semakin baik,” tambahnya.
Kober dan Pendidikan Kesetaraan dalam Satu Ekosistem Pendidikan
Keterlibatan guru Kober serta tutor Paket A, B, dan C dalam kegiatan ini juga menunjukkan bahwa layanan pendidikan di lingkungan Yayasan Ash-Shoddiq memiliki karakter yang beragam dan membutuhkan penguatan kapasitas secara komprehensif.
Pada satu sisi, pendidik Kober berhadapan dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini yang membutuhkan pendekatan pembelajaran sesuai tahap perkembangan. Di sisi lain, tutor pendidikan kesetaraan melayani warga belajar dengan karakteristik, usia, pengalaman, dan kebutuhan belajar yang beragam.
Keragaman tersebut menuntut pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik sekaligus kemampuan mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Dalam perspektif Pendidikan Masyarakat, keberagaman karakteristik peserta didik tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan model pembelajaran yang lebih fleksibel, inklusif, dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Menuju Pendidikan Masyarakat yang Berkualitas dan Berkelanjutan
Sosialisasi Jabar Beraksi di lingkungan Yayasan Ash-Shoddiq pada akhirnya menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antara unsur penyelenggara pendidikan, pendidik, Penilik, dan lembaga pembina.
Bagi Yayasan Ash-Shoddiq, penguatan kapasitas guru dan tutor merupakan bagian dari upaya menjaga mutu layanan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat. Sementara bagi Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UPI, keterlibatan dalam pembinaan satuan pendidikan masyarakat menjadi bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sinergi tersebut, diharapkan para pendidik di lingkungan Yayasan Ash-Shoddiq semakin siap menghadapi dinamika penyelenggaraan pendidikan dan mampu menghadirkan proses pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Sosialisasi Jabar Beraksi menjadi salah satu langkah untuk membangun budaya belajar berkelanjutan bagi para pendidik—sekaligus memperkuat komitmen bersama bahwa kualitas pendidikan masyarakat dibangun melalui kolaborasi, peningkatan kompetensi, dan pendampingan yang berkesinambungan.(Korespondensi : Dadang Yunus Lutfiansyah).
