Kaprodi Pengembangan Kurikulum UPI Jadi Narasumber Ocean LiteraSEA 2026, Perkuat Pendidikan Berkelanjutan dan Literasi Kelautan

Balikpapan, 30 Juli 2026 — Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan dan Pengembangan Kurikulum, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Dadi Mulyadi, S.Pd., M.T., menjadi narasumber dalam kegiatan Workshop Pembelajaran Interaktif dan Workshop Guru Empatik Ocean LiteraSEA 2026 yang diselenggarakan di SMK Negeri 5 Balikpapan, Kalimantan Timur.

Program Ocean LiteraSEA 2026 diinisiasi oleh PT Pertamina International Shipping bersama Yayasan Inovasi Muda Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas guru dalam mengembangkan pembelajaran yang mendorong kepedulian terhadap kelestarian laut dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini melibatkan guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah binaan Ocean LiteraSEA 2.0 dari wilayah Kalimantan dan Sulawesi, serta menghadirkan pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan kelautan.

Keterlibatan Kaprodi Teknologi Pendidikan dan Pengembangan Kurikulum UPI tersebut menegaskan kontribusi perguruan tinggi dalam mengintegrasikan perspektif pengembangan kurikulum dengan agenda pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama melalui pendidikan berkualitas, pelestarian ekosistem laut, dan penguatan kesadaran lingkungan sejak dini.

Pengembangan Kurikulum Kontekstual Berbasis Lingkungan Pesisir

Dalam kegiatan ini, Dr. Dadi Mulyadi berkontribusi pada sesi Pembelajaran Interaktif dan Kontekstual Berbasis Lingkungan Pesisir, Guru Empatik, Komunikasi Empatik, dan Pendekatan Sosial Emosional, serta Workshop Penyusunan RPP dan Modul Ajar Berbasis Kemaritiman. Ketiga sesi tersebut memberikan ruang bagi guru untuk memperkuat kompetensi pedagogis sekaligus menerjemahkan isu kemaritiman ke dalam praktik pembelajaran di sekolah.

Dari perspektif pengembangan kurikulum, pembelajaran kemaritiman perlu dirancang secara sistematis, mulai dari perumusan tujuan pembelajaran, pemilihan materi, penentuan strategi dan pengalaman belajar, hingga penyusunan asesmen. Isu kelautan dan lingkungan pesisir tidak cukup hanya disampaikan sebagai pengetahuan, tetapi perlu diintegrasikan ke dalam pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan peserta didik.

Pendekatan kontekstual memungkinkan guru mengangkat persoalan nyata, seperti pencemaran laut, sampah plastik, pelestarian mangrove, keanekaragaman hayati laut, dan keberlanjutan sumber daya pesisir sebagai sumber belajar. Melalui pembelajaran interaktif, diskusi, eksplorasi lingkungan, dan kegiatan berbasis proyek, peserta didik diharapkan mampu mengembangkan pemahaman konseptual, keterampilan berpikir kritis, kepedulian ekologis, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.

Selain aspek pengetahuan dan keterampilan, penguatan dimensi empatik juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran. Guru didorong membangun interaksi yang menghargai peserta didik, memahami keberagaman kebutuhan belajar, serta menciptakan lingkungan kelas yang suportif dan inklusif. Dengan demikian, pendidikan kemaritiman tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.

Mendukung Pencapaian SDGs melalui Pendidikan Kemaritiman

Partisipasi UPI dalam Ocean LiteraSEA 2026 memiliki keterkaitan strategis dengan sejumlah tujuan SDGs. Kontribusi tersebut terutama diwujudkan melalui penguatan kapasitas guru dan pengembangan perangkat pembelajaran yang mengintegrasikan isu keberlanjutan ke dalam kegiatan belajar di sekolah.

SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education)

Penguatan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran interaktif, kontekstual, dan inklusif merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui pengembangan RPP dan modul ajar berbasis kemaritiman, guru didorong menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan peserta didik serta memberikan kesempatan untuk belajar secara aktif, reflektif, dan bermakna.

SDG 14: Ekosistem Laut (Life Below Water)

Literasi kelautan menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan laut dan keberlanjutan sumber daya kelautan. Integrasi isu pencemaran, konservasi ekosistem, dan perlindungan keanekaragaman hayati ke dalam kurikulum diharapkan membangun kesadaran peserta didik untuk berpartisipasi dalam menjaga laut dan lingkungan pesisir.

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)

Pembelajaran berbasis lingkungan pesisir dapat memperkuat pemahaman peserta didik tentang dampak perubahan iklim terhadap ekosistem dan kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan belajar yang kontekstual, peserta didik dapat diajak mengenali tantangan lingkungan sekaligus mengembangkan tindakan sederhana yang mendukung adaptasi dan kepedulian terhadap perubahan iklim.

SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production)

Persoalan sampah plastik dan pencemaran laut dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran untuk membangun kebiasaan konsumsi yang bertanggung jawab. Peserta didik tidak hanya mempelajari dampak sampah terhadap lingkungan, tetapi juga didorong mengevaluasi kebiasaan sehari-hari dan merancang tindakan nyata untuk mengurangi sampah.

Keterkaitan dengan SDGs tersebut memperlihatkan bahwa kurikulum memiliki peran penting sebagai penghubung antara agenda pembangunan berkelanjutan dan praktik pendidikan. Melalui kurikulum yang dirancang secara kontekstual, nilai-nilai keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi kompetensi, pengalaman belajar, dan kebiasaan yang dibangun secara berkelanjutan.

Dari Pelatihan Guru Menuju Transformasi Pembelajaran

Salah satu agenda utama workshop adalah pendampingan penyusunan RPP dan modul ajar berbasis kemaritiman. Dalam sesi ini, guru memperoleh kesempatan untuk mengembangkan rancangan pembelajaran yang menghubungkan kompetensi kurikulum dengan persoalan lingkungan pesisir yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya keselarasan antara tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, dan asesmen. Pembelajaran yang berorientasi pada keberlanjutan perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengamati masalah, menganalisis penyebab, merumuskan alternatif solusi, dan merefleksikan dampak tindakannya terhadap lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari kemampuan peserta didik menjelaskan konsep kelautan, tetapi juga dari berkembangnya sikap peduli, kemampuan mengambil keputusan, kolaborasi, dan partisipasi dalam menjaga lingkungan.

Kegiatan ini melibatkan 14 guru, tujuh kepala sekolah, dan empat pengawas sekolah binaan Ocean LiteraSEA 2.0 dari wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Kolaborasi antara PT Pertamina International Shipping, Yayasan Inovasi Muda Indonesia, UPI, serta pemangku kepentingan di bidang kelautan dan pendidikan menjadi bentuk sinergi lintas sektor dalam memperkuat pendidikan berorientasi keberlanjutan.

Memperkuat Peran Perguruan Tinggi dalam Agenda Keberlanjutan

Keterlibatan Dr. Dadi Mulyadi dalam Ocean LiteraSEA 2026 mencerminkan peran strategis Program Studi Teknologi Pendidikan dan Pengembangan Kurikulum UPI dalam mengembangkan keilmuan kurikulum yang responsif terhadap tantangan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam menghasilkan pengetahuan akademik, tetapi juga menjembatani hasil pemikiran dan keilmuan dengan praktik pembelajaran di sekolah. Dalam konteks ini, pengembangan kurikulum menjadi instrumen penting untuk mengintegrasikan literasi kelautan, pendidikan karakter, pembelajaran inklusif, dan kesadaran keberlanjutan.

Melalui penguatan kapasitas guru dan pengembangan perangkat ajar berbasis kemaritiman, Ocean LiteraSEA 2026 diharapkan dapat mendorong pembelajaran yang lebih relevan dengan tantangan masa depan. Upaya ini sekaligus memperkuat kontribusi pendidikan terhadap pencapaian SDGs, dengan menempatkan sekolah sebagai ruang strategis untuk membangun generasi yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan manusia dan ekosistem laut.

Scroll to Top